Mahasiswa STAI Al-Gazali saat melakukan wawancara penelitian di Ponpes As'adiyah Galung BeruMedia Asgar Center – Pondok Pesantren As’adiyah Galung Beru kembali menjadi perhatian kalangan akademisi. Kali ini, lembaga satuan pendidikan Madrasah Tsanawiyah (MTs) As’adiyah Galung Beru menjadi lokasi penelitian mahasiswa tingkat akhir Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) STAI Al-Gazali Bulukumba, Senin (27/4/2026).
Penelitian tersebut dilaksanakan di MTs As’adiyah Galung Beru dengan mengangkat judul “Implementasi Metode Tahsin dalam Bimbingan Belajar bagi Peserta Didik yang Mengalami Kesulitan Membaca Al-Qur’an.”
Kajian ini berfokus pada efektivitas metode tahsin sebagai salah satu pendekatan pembelajaran dalam membantu siswa yang masih mengalami hambatan dalam membaca Al-Qur’an secara baik dan benar.
Diketahui, MTs As’adiyah Galung Beru memiliki program unggulan Tahfizh Al-Qur’an yang melibatkan puluhan siswa dalam pembinaan khusus. Sebagai lembaga berbasis pesantren, aktivitas pendidikan berjalan terintegrasi, di mana pada pagi hingga siang hari siswa mengikuti pembelajaran madrasah, sementara pada malam hari dilanjutkan dengan kegiatan kepesantrenan dan tahfizh Al-Qur’an.

Wawancara mahasiswa dengan ketua yayasan
Kepala MTs As’adiyah Galung Beru, Yulianti, menyambut baik pelaksanaan penelitian tersebut. Menurutnya, kegiatan akademik ini menjadi bentuk sinergi antara lembaga pendidikan tinggi dan pesantren dalam meningkatkan mutu pembelajaran keagamaan.
“Kami sangat terbuka terhadap kegiatan penelitian seperti ini karena dapat menjadi evaluasi sekaligus penguatan dalam proses pembelajaran di madrasah,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Lembaga Tahfizh Pondok Pesantren As’adiyah Galung Beru, Jusman Imam, menjelaskan bahwa pembinaan tahfizh dilakukan secara berjenjang, dimulai dari penguatan bacaan melalui tahsin.
“Semua siswa menjadi sasaran tahsin tanpa terkecuali. Inilah yang menjadi dasar pembinaan. Pesantren lain juga melakukan hal yang sama, tinggal bagaimana mengontrol dan mengevaluasi prosesnya agar lebih optimal,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan bahwa pesantren, madrasah, dan program tahfizh tidak berdiri sendiri, tetapi saling terhubung dalam satu sistem pembinaan yang bertujuan melahirkan generasi yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga kuat dalam literasi Al-Qur’an.
Di sisi lain, Ketua Yayasan As’adiyah Galung Beru, KM. Rusli Rahman, berharap penelitian ini dapat melahirkan gagasan serta rekomendasi yang bermanfaat dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an di kalangan peserta didik.
Ia menegaskan bahwa Pondok Pesantren As’adiyah Galung Beru selama ini terbuka terhadap kerja sama akademik dan menjadi rujukan penelitian bagi berbagai perguruan tinggi.
“Selama ini tidak hanya kampus lokal, tetapi juga kampus-kampus negeri seperti UMI, UIM, hingga UIN Alauddin Makassar juga menjadikan pesantren ini sebagai lokasi penelitian,” tutupnya.




