
Media Asgar Center – Lantunan syair Islami berpadu dengan tabuhan rebana menjadi bagian dari aktivitas santri Pondok Pesantren As’adiyah Galung Beru. Melalui ekstrakurikuler Qasidah Rebana, pesantren terus berupaya melestarikan seni Islam sekaligus mengembangkan bakat dan minat santri di bidang kesenian.
Kegiatan ekstrakurikuler tersebut dibimbing oleh KM. Ikbal, S.Ag. Para santri tidak hanya dilatih menyanyikan lagu-lagu Islami, tetapi juga diarahkan untuk mengenal dan memahami makna yang terkandung dalam setiap syair.
Menurut KM. Ikbal, kegiatan Qasidah memiliki nilai lebih karena seni yang dipelajari santri tidak berhenti pada kemampuan bernyanyi dan memainkan rebana. Setiap syair yang dilantunkan memiliki pesan yang dapat menjadi bagian dari proses pendidikan karakter.
“Qasidah bukan hanya tentang bagaimana santri bisa bernyanyi atau memainkan rebana dengan baik. Yang lebih penting adalah mereka memahami pesan yang terkandung dalam syair dan mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Ia menambahkan, kegiatan tersebut juga menjadi salah satu cara untuk mengenalkan kembali seni bernuansa Islami kepada generasi muda. Di tengah perkembangan berbagai bentuk hiburan dan kesenian modern, santri tetap perlu memiliki ruang untuk mengenal dan mencintai warisan budaya Islam.
“Melalui Qasidah, kami ingin santri memiliki kecintaan terhadap seni Islami sekaligus memahami bahwa kesenian juga dapat menjadi media untuk menyampaikan pesan-pesan kebaikan dan syiar Islam,” lanjut Ikbal.
Qasidah menjadi ruang bagi santri untuk belajar bahwa seni dapat berjalan beriringan dengan pendidikan keagamaan. Lantunan syair yang dibawakan mengandung pesan moral dan spiritual yang diharapkan dapat menanamkan nilai-nilai positif dalam kehidupan sehari-hari.
Selain kemampuan seni, proses latihan juga mengajarkan kedisiplinan dan kekompakan. Setiap anggota harus mampu menyesuaikan suara, irama, dan tabuhan rebana agar menghasilkan penampilan yang harmonis.
Menurut Ikbal, proses tersebut secara tidak langsung melatih santri untuk saling mendengarkan, menghargai peran masing-masing, dan bekerja sebagai sebuah tim.
“Ketika bermain Qasidah, tidak ada yang berjalan sendiri. Semua harus kompak. Dari situ santri belajar disiplin, tanggung jawab, percaya diri, dan menghargai teman dalam satu kelompok,” katanya.
Bagi pesantren, pengembangan bakat seni tidak semata-mata diarahkan pada kemampuan tampil di atas panggung. Lebih dari itu, kegiatan Qasidah diharapkan menjadi ruang tumbuh bagi santri untuk mengembangkan keberanian, kreativitas, kedisiplinan, kekompakan, dan rasa percaya diri. (Jsi/Khalil)




