Kalimat:

ويشترى بالمال الكتب ويستكتب فيكون عونا على التعلم والتفقه

maknanya kurang lebih:

“Harta hendaknya digunakan untuk membeli kitab dan menyalin/menuliskan ilmu, karena hal itu membantu proses belajar dan mendalami ilmu.”

Ini penting untuk santri.

Imam az-Zarnuji tidak mengatakan bahwa semua santri harus kaya. Justru kisah setelahnya menunjukkan bahwa orang miskin pun dapat mengambil bagian dalam perjuangan ilmu.

Yang menjadi pertanyaan bukan: “Berapa banyak uang yang saya punya?”

Tetapi: “Apa yang saya korbankan untuk ilmu yang sedang saya perjuangkan?”

Ada santri yang mengorbankan uang untuk membeli kitab.

Ada yang mengorbankan waktu untuk mengulang hafalan.

Ada yang mengorbankan waktu bermain untuk mengikuti pengajian.

Ada yang rela bangun ketika teman-temannya masih tidur.

Ada yang menahan keinginan membeli sesuatu karena ingin memiliki buku yang dibutuhkan.

Jadi, pengorbanan dalam mencari ilmu tidak selalu berbentuk uang.


2. Kisah ayah Syamsul A’immah al-Halwani

Ini salah satu bagian paling menyentuh.

Ayah Syamsul A’immah al-Halwani digambarkan sebagai seorang yang fakir dan bekerja menjual manisan.

Beliau tidak memiliki kekayaan besar. Tetapi ada sesuatu yang sangat mahal dalam dirinya: cinta kepada ilmu dan cinta kepada anaknya. Ketika bertemu para fuqaha, beliau memberikan manisan yang dimilikinya sambil berkata:

ادْعُوا لِابْنِي

“Doakanlah anakku.”

Jadi, manisan yang dijualnya bukan hanya menjadi sumber penghasilan. Sebagian yang mampu ia berikan kepada orang-orang berilmu sambil memohon doa agar anaknya berhasil dalam ilmu. Kisah ini dinukil dalam Ta‘lim al-Muta‘allim.

Kemudian az-Zarnuji menyampaikan bahwa berkat kedermawanan, keyakinan, kasih sayang dan doa tersebut, anaknya mencapai kedudukan ilmu yang tinggi.

Pelajaran besarnya:

Orang tua mungkin tidak mampu mewariskan banyak harta kepada anaknya, tetapi bisa mewariskan doa, adab, kecintaan kepada ulama, dan kecintaan kepada ilmu.

Bayangkan seorang ayah miskin. Tidak punya mobil mewah. Tidak punya rumah megah. Tidak punya tabungan besar. Yang ia punya mungkin hanya beberapa bungkus manisan.

Tetapi ia berkata kepada orang alim: “Doakan anak saya.”

Dan ternyata, dari keluarga sederhana itu lahir seorang ulama besar. Maka jangan pernah meremehkan doa orang tua.


3. Santri jangan berkata: “Saya tidak punya fasilitas”

Ini sangat relevan dengan kehidupan santri sekarang.

Kadang seorang santri berkata: “Saya tidak punya kitab.”

Padahal HP ada. Kuota ada. Media sosial dibuka setiap hari. Tetapi untuk membuka PDF kitab, terasa berat.

Kadang berkata: “Saya tidak punya waktu belajar.”

Tetapi untuk scrolling TikTok, Reels, Facebook, atau YouTube, waktunya bisa berjam-jam.

Ini bukan berarti HP harus dijauhi.

Masalahnya bukan pada HP, tetapi pada bagaimana kita menggunakan nikmat.

Kalau Allah memberikan HP, jadikan sebagian waktunya untuk mencari ilmu.

Kalau Allah memberikan uang, sisihkan untuk membeli kitab.

Kalau Allah memberikan waktu luang, gunakan untuk membaca.

Kalau Allah memberikan guru, manfaatkan kesempatan belajar.

Kalau Allah memberikan orang tua, mintalah doa mereka.

Jangan menunggu menjadi kaya untuk menjadi penuntut ilmu.


4. Kisah Imam Muhammad bin al-Hasan

Bagian berikutnya bahkan lebih kuat.

Kitab menceritakan bahwa Muhammad bin al-Hasan memiliki harta yang banyak. Dalam riwayat yang dikutip az-Zarnuji, beliau bahkan disebut memiliki sekitar 300 orang yang mengurus hartanya.

Namun beliau mengeluarkan hartanya untuk ilmu dan fikih, sampai tidak lagi memiliki pakaian bagus. Ketika Abu Yusuf melihatnya mengenakan pakaian yang sudah usang, Abu Yusuf mengirimkan pakaian yang bagus kepadanya. Namun Muhammad bin al-Hasan tidak menerimanya.

Ada ungkapan yang dinukil dalam teks:

عَجِّلْ لَكُمْ، وَأَجِّلْ لَنَا

Secara makna dapat dipahami sebagai:

“Kalian memperoleh yang segera, sedangkan kami mengejar sesuatu yang ditangguhkan.”

Pesannya bukan bahwa memakai pakaian bagus itu haram atau memiliki harta itu salah.

Bukan itu.

Pesannya adalah: Jangan sampai harta menjadi tujuan hidup sehingga ilmu dikorbankan.


5. Harta itu bukan musuh ilmu

Ini penting agar kisah tersebut tidak salah dipahami.

Islam tidak mengajarkan bahwa seorang santri harus miskin.

Justru jika Allah memberikan harta, gunakan harta itu untuk kebaikan.

Membeli kitab adalah kebaikan.

Membayar pendidikan adalah kebaikan.

Membantu guru adalah kebaikan.

Membantu teman yang kesulitan belajar adalah kebaikan.

Membangun perpustakaan pesantren adalah kebaikan.

Membiayai santri yang tidak mampu adalah kebaikan.

Menyediakan fasilitas belajar adalah kebaikan.

Yang salah bukan memiliki harta. Yang salah adalah ketika harta memiliki hati kita.


6. Ada satu pelajaran yang sangat dalam: “Investasi ilmu”

Coba bayangkan dua santri memiliki uang Rp100.000.

Santri A: Rp100.000 habis untuk jajan dan kesenangan sesaat.

Santri B: Rp70.000 untuk kebutuhan dan Rp30.000 disimpan untuk membeli buku.

Setelah satu tahun, mungkin uang Santri A sudah tidak tersisa.

Tetapi Santri B mungkin sudah memiliki beberapa buku yang mengubah cara berpikirnya.

Itulah investasi ilmu. Uang yang digunakan untuk ilmu tidak selalu kembali dalam bentuk uang.

Ia bisa kembali sebagai:

  • pemahaman,
  • akhlak,
  • keterampilan,
  • kepercayaan masyarakat,
  • kemampuan mengajar,
  • kemampuan berdakwah,
  • pekerjaan,
  • kebermanfaatan,
  • bahkan pahala yang terus mengalir.

7. Jangan hanya membeli kitab, tetapi “membeli kesempatan”

Ada santri yang memiliki banyak kitab tetapi jarang membacanya.

Ini juga perlu direnungkan.

Kitab yang tidak dibaca hanya menjadi dekorasi rak.

Maka yang perlu dibeli bukan hanya kitabnya.

Yang harus “dibeli” adalah kesempatan untuk belajar.

Misalnya: Membeli kitab → membaca → memahami → mencatat → mengulang → bertanya kepada guru → mengamalkan → mengajarkan.

Di situlah kitab berubah menjadi ilmu yang hidup.


8. Motivasi yang sangat cocok untuk santri

Bayangkan seorang santri duduk di serambi masjid.

Kitabnya sederhana. Kertasnya mungkin sudah kusam. Pakaiannya tidak mahal. Uangnya terbatas. Tetapi ia terus membaca. Temannya mungkin berkata: “Untuk apa kamu serius sekali belajar? Santai saja.”

Santri itu menjawab: “Karena saya tidak tahu masa depan saya. Tetapi saya tahu, kalau saya terus belajar, insyaallah masa depan saya tidak akan sama dengan hari ini.”

Inilah mental penuntut ilmu. Tidak harus langsung pintar. Yang penting jangan berhenti belajar.


9. Ada kisah lain yang sangat kuat: Imam as-Sarakhsi

Dalam tradisi Ta‘lim al-Muta‘allim, diceritakan bahwa Imam Syamsul A’immah as-Sarakhsi tetap mengulang pelajaran meskipun sedang sakit. Ia disebut berwudu berkali-kali karena tidak ingin mengulang pelajaran kecuali dalam keadaan suci.

Dari sini muncul ungkapan:

العِلْمُ نُورٌ وَالْوُضُوءُ نُورٌ

“Ilmu adalah cahaya dan wudu adalah cahaya.”

Ini bukan sekadar cerita tentang berapa kali seseorang berwudu.

Yang lebih penting adalah penghormatan terhadap ilmu.

Hari ini bentuknya mungkin berbeda.

Santri yang menghormati ilmu akan:

  • datang tepat waktu,
  • tidak bermain HP ketika guru mengajar,
  • mencatat pelajaran,
  • menjaga kitab,
  • mengulang pelajaran,
  • bertanya ketika tidak paham,
  • menghormati guru,
  • tidak malu mengatakan “saya belum tahu.”

10. Ada satu pesan yang lebih dalam: keberhasilan tidak selalu dimulai dari kemampuan

Kisah ayah al-Halwani menunjukkan sesuatu yang indah:

Anak itu bisa menjadi ulama besar, sementara ayahnya hanya seorang penjual manisan.

Maka jangan katakan: “Saya dari keluarga biasa, jadi saya tidak mungkin menjadi orang besar.”

Banyak orang besar berasal dari keluarga sederhana. Yang menentukan bukan hanya dari mana kita berasal.

Tetapi: ke mana kita mau berjalan. Seorang anak petani bisa menjadi ulama. Anak pedagang bisa menjadi guru. Anak orang sederhana bisa menjadi hafiz. Anak desa bisa menjadi intelektual. Santri dari pesantren kecil bisa mengabdi di tempat yang besar. Asal ia mau belajar dan terus berjuang.


11. Jangan malu menjadi santri sederhana

Justru terkadang kesederhanaan menjadi kekuatan.

Tidak punya banyak uang → belajar.

Tidak punya fasilitas lengkap → manfaatkan yang ada.

Tidak punya banyak kitab → baca kitab yang ada berulang-ulang.

Tidak punya guru terkenal → hormati guru yang Allah hadirkan.

Tidak punya ruang belajar bagus → masjid, serambi, perpustakaan, bahkan bawah pohon pun bisa menjadi tempat belajar.

Karena yang membuat ilmu tumbuh bukan kemewahan tempatnya.

Tetapi kesungguhan orang yang duduk di dalamnya.


12. Untuk santri zaman sekarang: “Beli kitab, jangan hanya beli kuota”

Ini bisa menjadi motivasi ringan saat mengisi kajian: “Nak, kalau punya uang, jangan hanya bertanya: ‘Mau beli apa?’ Tanyakan juga: ‘Apa yang bisa membuat saya lebih pintar dan lebih baik?’”

Kalau punya Rp50 ribu: Bisa membeli makanan. Tetapi sebagian juga bisa disimpan untuk kitab.

Kalau punya HP:

Bisa digunakan untuk hiburan.

Tetapi bisa juga untuk membaca kitab digital.

Kalau punya internet:

Bisa digunakan untuk scrolling.

Tetapi juga bisa digunakan untuk mencari penjelasan ilmu.

Teknologi tidak menentukan masa depan kita. Kebiasaan kita yang menentukan bagaimana teknologi bekerja dalam hidup kita.


13. Pesan paling dalam dari halaman ini

Kalau saya sederhanakan seluruh isi halaman tersebut, ada empat kata besar:

DOA → PENGORBANAN → ILMU → KEBERKAHAN

Ayah al-Halwani memberikan apa yang dia punya dan meminta doa.

Muhammad bin al-Hasan mengorbankan hartanya untuk ilmu.

Para ulama mengorbankan waktu, tenaga dan kenyamanan.

Kemudian ilmu itu menjadi sesuatu yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Jadi, jangan hanya bertanya: “Kapan saya menjadi orang pintar?”

Tetapi bertanyalah: “Apa yang sudah saya korbankan agar saya menjadi orang berilmu?”


🌱 Ilustrasi sederhana untuk santri

Bayangkan ada dua benih.

Benih pertama berkata:

“Saya ingin menjadi pohon besar.”

Benih kedua berkata:

“Saya juga ingin.”

Tetapi benih pertama hanya berharap.

Benih kedua rela ditanam di tanah, ditutup tanah, terkena panas, disiram, akarnya menembus tanah, kemudian tumbuh.

Santri adalah benih kedua.

Mondok itu proses “ditanam”.

Disiplin adalah airnya. Guru adalah petaninya. Kitab adalah nutrisinya.

Doa orang tua adalah keberkahannya.

Kesabaran adalah akarnya. Dan ilmu yang bermanfaat adalah buahnya. Tidak ada pohon besar yang tumbuh dalam satu malam. Begitu juga ulama.


🔥 Penutup yang bisa disampaikan kepada santri

Anak-anakku, jangan malu menjadi santri yang sederhana. Jangan malu membawa kitab yang lusuh. Jangan malu duduk di majelis ketika teman-temanmu sedang bersenang-senang. Jangan malu mengulang pelajaran yang belum kamu pahami. Jangan malu bertanya kepada guru.

Sebab bisa jadi, kitab yang hari ini kamu pegang dengan tangan sederhana, kelak menjadi sebab banyak orang mendapatkan petunjuk melalui ilmu yang kamu ajarkan.

Bisa jadi, uang yang hari ini kamu sisihkan untuk membeli kitab menjadi investasi terbesar dalam hidupmu.

Bisa jadi, doa ayah dan ibumu yang sederhana menjadi jalan Allah mengangkat derajatmu.

Dan bisa jadi, kesulitan yang kamu rasakan selama mondok hari ini adalah cerita yang kelak paling kamu syukuri.

Maka jangan menyerah. Belajarlah ketika orang lain bermain. Bacalah ketika orang lain sibuk dengan layar. Hormatilah guru ketika orang lain meremehkan ilmu. Simpanlah sedikit hartamu untuk ilmu.

Dan jangan pernah merasa kecil hanya karena berasal dari keluarga sederhana.

Sebab sejarah para ulama membuktikan: yang mengangkat seseorang bukan kemewahan asal-usulnya, tetapi kesungguhan, adab, doa, pengorbanan, dan pertolongan Allah.