
Anak-anak santri putra dan putri yang dirahmati Allah Swt.
Pernahkah kalian bertanya, mengapa di pesantren tidak boleh merokok? Mengapa membawa HP dibatasi, bahkan tidak diperbolehkan? Mengapa harus bangun pagi, salat berjamaah, mengaji, belajar, menjaga adab kepada guru, menjaga kebersihan, dan hidup disiplin?
Jangan melihat semua itu hanya sebagai larangan.
Lihatlah sebagai proses perbaikan diri.
Kalau anak di luar sana bebas memegang HP sepanjang hari, bukan berarti kalian juga harus bebas. Kalau ada anak seusia kalian yang merokok, bukan berarti kalian harus ikut merokok. Kalau orang di luar sana boleh tidur sesuka hati, bermain sesuka hati, berbicara sesuka hati, dan bergaul tanpa batas, maka kehidupan pesantren justru mengajarkan sesuatu yang lebih penting:
Tidak semua yang kita suka harus kita lakukan. Tidak semua yang kita inginkan baik untuk kita.
Kalian mondok karena ada sesuatu yang ingin diperbaiki.
Pesantren itu ibarat bengkel kehidupan.
Kalau kendaraan masuk bengkel, bukan berarti kendaraan itu jelek. Ia masuk bengkel karena ada bagian yang perlu diperbaiki, diservis, dibersihkan, disetel, bahkan mungkin diganti agar dapat kembali berjalan dengan baik.
Begitu pula manusia.
Yang diperbaiki di pesantren bukan mesin, tetapi akhlak. Yang diservis bukan kendaraan, tetapi kebiasaan. Yang dibersihkan bukan bodi, tetapi hati dan perilaku.
Karena itu, jangan heran kalau pesantren memiliki aturan.
Tidak merokok bukan sekadar larangan merokok. Itu latihan mengendalikan hawa nafsu.
Tidak membawa HP bukan sekadar kehilangan alat komunikasi. Itu latihan agar kalian tidak menjadi budak teknologi dan mampu mengendalikan keinginan.
Bangun sebelum Subuh bukan sekadar mengurangi waktu tidur. Itu latihan disiplin dan melawan rasa malas.
Mengaji setiap hari bukan sekadar memenuhi jadwal. Itu latihan agar hati terbiasa bersama Al-Qur’an.
Menghormati guru bukan sekadar sopan santun. Itu latihan menempatkan ilmu dan orang yang mengajarkannya pada tempat yang mulia.
Menjaga kebersihan bukan sekadar membersihkan halaman. Itu latihan bertanggung jawab terhadap lingkungan dan sesama.
Maka jangan terus bertanya, “Kenapa saya tidak boleh?”
Sesekali tanyakan kepada diri sendiri:
“Apa yang sedang diperbaiki dalam diri saya melalui aturan ini?”
Bisa jadi sesuatu yang hari ini terasa berat justru menjadi sesuatu yang kelak menyelamatkan kalian.
Santri Putra: Belajar Menjadi Laki-Laki yang Teguh
Anak-anak santri putra, kalian sedang dipersiapkan menjadi laki-laki yang memiliki tanggung jawab.
Laki-laki bukan yang paling keras suaranya. Bukan yang paling berani melawan. Bukan yang paling banyak merokok. Bukan yang paling banyak memiliki teman perempuan. Bukan pula yang pandai merayu dan mencari perhatian.
Laki-laki yang kuat adalah laki-laki yang mampu mengendalikan dirinya.
Berani menolak rokok ketika teman mengajak.
Berani meletakkan HP ketika keinginan untuk bermain muncul.
Berani mengatakan tidak ketika diajak melakukan sesuatu yang salah.
Berani menjaga pandangan ketika berhadapan dengan lawan jenis.
Berani menjaga hati ketika mulai muncul rasa suka.
Dan yang paling penting, berani memilih masa depan daripada kesenangan sesaat.
Jangan merasa keren karena bisa melanggar aturan.
Keren itu ketika kalian mampu menahan diri meskipun tidak ada yang mengawasi.
Sebab suatu hari nanti kalian akan keluar dari pesantren. Tidak ada lagi pembina yang setiap saat mengingatkan. Tidak ada lagi guru yang melihat setiap gerak kalian.
Saat itulah pendidikan pesantren benar-benar diuji.
Apakah kalian tetap menjaga salat ketika tidak ada yang menyuruh?
Apakah kalian tetap menjaga lisan ketika tidak ada guru?
Apakah kalian tetap menjauhi rokok, narkoba, pergaulan buruk, dan kemaksiatan ketika tidak ada aturan pesantren?
Kalau kalian tetap mampu menjaga diri, berarti nilai-nilai pesantren sudah hidup di dalam diri kalian.
Santri Putri: Jadilah Perempuan yang Tangguh dan Bermartabat
Anak-anak santri putri, kalian juga sedang ditempa menjadi perempuan yang kuat.
Perempuan tangguh bukan berarti perempuan yang keras. Perempuan tangguh adalah perempuan yang memiliki prinsip, menjaga kehormatan, mampu mengatakan tidak, dan tidak mudah kehilangan arah hanya karena perhatian seseorang.
Kelak kalian akan bertemu dengan banyak orang.
Ada yang datang dengan kata-kata manis.
Ada yang pandai memberikan perhatian.
Ada yang berkata, “Aku sayang kamu.”
Ada yang mengatakan, “Aku serius denganmu.”
Ada yang berjanji, “Aku tidak akan meninggalkanmu.”
Tetapi anak-anak, jangan ukur seseorang hanya dari kata-katanya.
Rayuan itu mudah.
Janji itu mudah.
Kata-kata manis itu mudah.
Yang sulit adalah membuktikan semuanya dengan akhlak, tanggung jawab, dan jalan yang benar.
Jangan mudah goyah hanya karena seseorang sering mengirim pesan. Jangan merasa berharga hanya karena ada lelaki yang memberikan perhatian. Jangan menganggap rayuan sebagai bukti cinta.
Harga diri seorang perempuan tidak ditentukan oleh seberapa banyak lelaki yang menyukainya.
Kalian berharga karena kalian adalah hamba Allah yang memiliki kehormatan.
Maka jagalah diri.
Jangan mudah memberikan kepercayaan kepada orang yang baru dikenal. Jangan membuka ruang yang dapat membawa kepada pergaulan yang melampaui batas. Jangan berduaan dengan lawan jenis. Jangan menjalin hubungan sembunyi-sembunyi. Dan jangan biarkan kata-kata seseorang membuat kalian meninggalkan prinsip yang selama ini diajarkan.
Kalau ada lelaki yang benar-benar menghargai kalian, ia tidak akan meminta kalian melanggar aturan agama demi membuktikan cinta.
Orang yang benar-benar menghormati kalian akan menghormati batas-batas kalian.
Karena itu, jangan takut mengatakan:
“Tidak.”
Tidak pada rayuan.
Tidak pada ajakan yang buruk.
Tidak pada hubungan yang tidak jelas.
Tidak pada tipu muslihat yang dibungkus kata-kata cinta.
Simpan hati kalian untuk sesuatu yang baik dan halal pada waktunya.
Belajarlah dahulu. Bangun masa depan. Perkuat ilmu. Perindah akhlak. Jaga kehormatan.
Jangan sampai masa depan yang panjang dikorbankan hanya karena kesenangan sesaat.
Pesantren Adalah Tempat Menempa Diri
Anak-anak santri…
Pesantren tidak menjanjikan kalian menjadi manusia yang sempurna. Tetapi pesantren memberikan lingkungan, guru, ilmu, pembiasaan, disiplin, dan aturan agar kalian memiliki kesempatan untuk terus memperbaiki diri.
Jangan menganggap aturan pesantren sebagai penjara.
Anggaplah ia sebagai pagar.
Pagar memang membatasi langkah, tetapi pagar juga melindungi kita dari jalan yang berbahaya.
Hari ini mungkin kalian merasa dibatasi.
Tidak boleh merokok.
Tidak bebas menggunakan HP.
Tidak boleh berduaan.
Tidak boleh berpacaran.
Tidak boleh berbicara seenaknya.
Tidak boleh tidur sesuka hati.
Tidak boleh melakukan apa saja yang kalian inginkan.
Tetapi ingatlah:
Pesantren bukan sedang mengambil kebebasan kalian. Pesantren sedang mengajarkan kalian cara menggunakan kebebasan dengan benar.
Sebab kebebasan tanpa kendali dapat menghancurkan manusia.
Dan disiplin tanpa kesadaran memang terasa berat, tetapi disiplin yang dipahami akan menjadi karakter.
Suatu hari nanti kalian akan meninggalkan pesantren.
Dunia akan menawarkan banyak pilihan.
Saat itu tidak ada lagi yang memaksa kalian untuk menjadi baik.
Kalian sendiri yang harus memilih.
Memilih ilmu atau kesenangan.
Memilih Al-Qur’an atau kelalaian.
Memilih kehormatan atau popularitas.
Memilih masa depan atau kesenangan sesaat.
Memilih menjaga diri atau mengikuti hawa nafsu.
Di situlah terlihat siapa sebenarnya diri kalian.
Tujuan pesantren bukan membuat kalian baik hanya ketika diawasi. Tujuan pesantren adalah membentuk kalian menjadi manusia yang tetap baik meskipun tidak ada yang melihat.
Itulah akhlak.
Itulah hasil pendidikan.
Itulah makna sebenarnya dari mondok.
Penutup
Maka jalani kehidupan pesantren dengan ikhlas.
Ketika ditegur, jangan langsung merasa dibenci.
Ketika diberi aturan, jangan langsung merasa dikekang.
Ketika diminta disiplin, jangan merasa dipersulit.
Bisa jadi di balik teguran ada perhatian.
Di balik aturan ada perlindungan.
Di balik kedisiplinan ada masa depan.
Dan di balik kehidupan yang terasa berat hari ini, ada manusia yang sedang dibentuk.
Anak-anak santri putra, jadilah laki-laki yang mampu mengendalikan diri, menjaga kehormatan, bertanggung jawab, dan teguh memegang prinsip.
Anak-anak santri putri, jadilah perempuan yang berilmu, kuat, bermartabat, tidak mudah goyah oleh rayuan, tidak mudah tertipu oleh kata-kata manis, dan berani menjaga batas serta kehormatan diri.
Kalian tidak sedang kehilangan masa muda karena mondok.
Kalian sedang menyelamatkan masa depan.
Kalian tidak sedang kehilangan kebebasan.
Kalian sedang belajar mengendalikan kebebasan.
Kalian tidak sedang dihukum dengan aturan.
Kalian sedang ditempa menjadi manusia yang lebih baik.
Dan kelak, ketika kalian telah dewasa, mungkin kalian akan menoleh ke belakang dan berkata:
“Ternyata dulu saya bukan sedang dibatasi. Saya sedang dibentuk.”
“Ternyata dulu saya bukan sedang kehilangan kebebasan. Saya sedang belajar menjaga diri.”
“Ternyata pesantren bukan sekadar tempat saya tinggal dan belajar. Pesantren adalah tempat saya ditempa menjadi manusia.”
Semoga Allah menjadikan kalian santri yang berilmu, beradab, kuat memegang prinsip, mampu menjaga diri, dan bermanfaat bagi agama, keluarga, masyarakat, bangsa, dan umat.
Amin ya Rabbal ‘alamin.



