Jika ditarik ke belakang, pola ini telah dipraktikkan oleh para ulama besar Sulawesi Selatan. AGH Muhammad As’ad membangun halaqah sebagai pusat transmisi ilmu dan adab. Santri duduk melingkar, menyimak kitab, lalu menyerap nilai, bukan hanya memahami teks, tetapi meneladani sikap. Bahkan jauh sebelumnya, dakwah Datuk Ri Bandang juga mengandalkan pendekatan serupa: dekat, membina, dan menanamkan nilai secara langsung dalam kehidupan.
Namun mangangaji tudang bukan sekadar menjaga tradisi keilmuan. Ia juga bekerja sebagai terapi sosial dan karakter. Dalam satu lingkaran halaqah, santri dari berbagai daerah, latar belakang sosial, dan budaya duduk setara. Tidak ada sekat status. Tidak ada ruang eksklusivitas. Yang ada hanya adab, ilmu, dan kebersamaan.
Di situlah proses penting terjadi. Kitab-kitab yang dikaji sarat dengan perbedaan pendapat ulama. Santri diajak memahami bahwa kebenaran tidak selalu tunggal dalam praktik fiqh, bahwa perbedaan adalah bagian dari khazanah, bukan ancaman. Dari sini lahir sikap terbuka, toleran, dan dewasa dalam menyikapi perbedaan.
Apa yang disebut sebagai “vaksin multikulturalisme” sesungguhnya telah lama hidup dalam tradisi ini. Bukan diajarkan dalam bentuk teori, tetapi dialami langsung setiap hari. Mangangaji tudang menjadi ruang latihan hidup bersama—menghargai, mendengar, dan tetap berpegang pada adab.
Di era hari ini, ketika polarisasi dan sikap eksklusif mudah tumbuh, model seperti ini justru menjadi sangat relevan. Mangangaji tudang bekerja sebagai terapi yang menyembuhkan: meredam ego, mengikis fanatisme sempit, dan menumbuhkan kesediaan untuk hidup berdampingan secara damai.
Karena itu, menjaga halaqah mangangaji tudang bukan sekadar merawat tradisi lama. Ini adalah upaya menjaga masa depan. Masa depan di mana ilmu tidak melahirkan kesombongan, tapi melahirkan kebijaksanaan.
Dari lingkaran kecil itu, lahir sesuatu yang besar: santri yang tidak hanya berilmu, tetapi juga matang secara sosial dan siap hidup di tengah keberagaman.