Bagian awal menjelaskan:

لِأَنَّ الْعَقْلَ لَا يُدْرِكُ جَمِيعَ الْأَشْيَاءِ كَالْبَصَرِ لَا يُبْصِرُ جَمِيعَ الْأَشْيَاءِ

Artinya secara sederhana:

“Akal tidak mampu memahami seluruh sesuatu, sebagaimana mata juga tidak mampu melihat seluruh sesuatu.”

Ini sebuah pelajaran tentang keterbatasan manusia.

Mata kita bisa melihat buku di depan kita, tetapi tidak bisa melihat sesuatu yang berada di balik tembok. Demikian pula akal. Akal dapat memahami banyak hal, tetapi tidak berarti semua perkara dapat dijangkaunya.

Karena itu, dalam tradisi pesantren, seorang santri tidak hanya diajarkan cerdas, tetapi juga rendah hati.

Ilustrasi santri

Seorang santri baru selesai belajar satu bab kitab. Ia merasa sudah memahami persoalan agama tersebut.

Kemudian ia mendengar gurunya menjelaskan persoalan itu dari sudut pandang yang berbeda.

Santri tersebut mempunyai dua pilihan: “Pendapat saya yang paling benar karena saya sudah belajar.”

atau: “Mungkin ilmu saya masih sedikit. Saya perlu mendengar penjelasan guru.”

Pilihan kedua menunjukkan adab ilmu.

Sebab semakin seseorang berilmu, idealnya semakin sadar bahwa yang belum diketahuinya jauh lebih banyak daripada yang diketahuinya.


2. Jangan terlalu percaya kepada kemampuan diri sendiri

Teks kemudian mengutip:

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ

“Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”

Ungkapan ini sering digunakan dalam tradisi tasawuf dan nasihat keislaman. Maknanya bukan bahwa manusia dapat mengetahui hakikat Zat Allah melalui dirinya, tetapi bahwa ketika manusia benar-benar mengenal kelemahan dan keterbatasan dirinya, ia semakin menyadari kebesaran dan kekuasaan Allah.

Coba santri bertanya kepada dirinya:

  • Saya bisa belajar karena siapa?
  • Saya bisa menghafal karena siapa?
  • Saya bisa sehat karena siapa?
  • Saya bisa memahami kitab karena siapa?
  • Saya bisa bangun tahajud karena siapa?
  • Saya bisa menjaga hafalan karena siapa?

Jawabannya membawa kita kepada satu kesadaran:

Kemampuan manusia adalah pemberian Allah.


3. Mengenal diri berarti mengenal kelemahan diri

Dalam teks juga dijelaskan bahwa seseorang yang mengetahui kelemahan dirinya akan mengetahui kekuasaan Allah.

Ini penting bagi santri.

Mengenal diri bukan berarti merendahkan diri.

Mengenal diri berarti tahu: “Saya punya kemampuan, tetapi saya juga punya keterbatasan.”

Misalnya seorang santri hafal 10 juz.

Jangan sampai hafalan itu membuatnya berkata:“Saya lebih hebat daripada teman saya.”

Tetapi hendaknya berkata: “Alhamdulillah, Allah memberikan saya kemampuan menghafal. Karena itu saya harus menjaga hafalan dan semakin rendah hati.”

Di situlah ilmu berubah menjadi akhlak.


4. Tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha

Teks kemudian membawa kita kepada konsep:

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Barangsiapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupinya.”

Ini jangan dipahami: “Saya tidak perlu belajar. Saya tawakal.”

Itu bukan tawakal.

Tawakal adalah: berusaha maksimal, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Ilustrasi santri menghadapi ujian

Santri A: “Besok ujian. Saya tawakal saja.”

Tetapi malamnya bermain HP sampai tengah malam.

Santri B: “Saya tawakal kepada Allah.”

Lalu ia belajar, membaca ulang kitab, bertanya kepada guru ketika tidak paham, berdoa, kemudian tidur agar tubuhnya siap menghadapi ujian.

Santri B lebih mencerminkan tawakal. Sebab tawakal tidak menghapus ikhtiar.

Ikhtiar adalah kewajiban manusia. Hasil adalah wilayah Allah.


5. Mengapa santri tidak boleh sombong?

Karena manusia sebenarnya sangat terbatas.

Hari ini kita bisa menghafal.

Besok bisa lupa.

Hari ini sehat.

Besok bisa sakit.

Hari ini memahami pelajaran.

Besok bisa bingung.

Hari ini dipercaya menjadi ketua.

Besok bisa digantikan orang lain.

Maka santri perlu mempunyai prinsip: “Saya berusaha dengan kemampuan saya, tetapi saya tidak menggantungkan keberhasilan kepada kemampuan saya semata.”

Di sinilah tawakal menjadi penjaga hati.


6. Jangan menjadi santri yang hanya pandai meminta

Ada bagian yang sangat menarik:

وَيَطْلُبُ مِنْهُ الْحَقَّ

Intinya manusia diminta untuk bergantung kepada Allah dan memohon kepada-Nya.

Tetapi dalam kehidupan pesantren, jangan sampai hubungan dengan Allah hanya muncul ketika kita membutuhkan sesuatu.

Misalnya: “Ya Allah, mudahkan saya ujian.”

Tetapi setelah ujian selesai, Al-Qur’an ditinggalkan.

Atau: “Ya Allah, jadikan saya juara.”

Tetapi latihan tidak serius.

Seharusnya: berdoa ketika membutuhkan, bersyukur ketika mendapatkan, dan tetap taat ketika tidak mendapatkan apa yang kita inginkan.


7. Bagian akhir: melawan sifat bakhil

Teks kemudian memberikan nasihat:

وَيَنْبَغِي أَنْ يَتَعَوَّذَ بِاللَّهِ تَعَالَى مِنَ الْبُخْلِ

“Sepatutnya seseorang berlindung kepada Allah Ta’ala dari sifat bakhil.”

Bakhil bukan hanya soal uang.

Bakhil bisa muncul dalam banyak bentuk.

Santri bisa bakhil dengan:

  • tidak mau berbagi makanan;
  • tidak mau meminjamkan buku;
  • tidak mau mengajari teman;
  • menyimpan ilmu agar dirinya terlihat paling pintar;
  • tidak mau membantu teman yang kesulitan;
  • bahkan enggan memberikan senyum dan salam.

Padahal ilmu yang diberikan kepada orang lain tidak membuat ilmu kita berkurang.

Ilustrasi ringan

Seorang santri membeli gorengan. Temannya datang: “Bagi satu dong.”

Santri itu menjawab: “Tidak. Ini uang saya.”

Secara hukum, makanan itu memang miliknya. Tetapi secara akhlak, ada kesempatan untuk berbagi.

Lain cerita jika dia berkata: “Ambillah satu. Kita makan sama-sama.”

Gorengannya mungkin hanya Rp2.000. Tetapi nilai pendidikannya jauh lebih besar: santri sedang belajar melawan ego.


8. Bakhil juga bisa terjadi pada ilmu

Ini yang sangat penting di pesantren.

Ada santri yang sudah mengetahui suatu pelajaran, tetapi ketika temannya bertanya: “Bagaimana cara membaca bagian ini?” Dia menjawab: “Cari tahu sendiri.”

Padahal dia mampu menjelaskan. Lebih baik ia berkata: “Sini, saya jelaskan.”

Sebab ilmu bukan semakin mulia ketika disimpan, tetapi semakin berkah ketika diamalkan dan diajarkan.

Santri yang hebat bukan hanya: “Saya bisa.” Tetapi: “Saya bisa, maka saya bantu teman saya agar bisa.”


9. Hubungan semua nasihat ini

Kalau seluruh isi teks dirangkum, ada empat tahapan pendidikan jiwa:

Pertama — Kenali keterbatasan diri

Akal kita terbatas.

Kedua — Kenali kebesaran Allah

Ketika mengetahui kelemahan diri, kita menyadari kekuasaan Allah.

Ketiga — Berserah diri kepada Allah

Berusaha dengan sungguh-sungguh lalu bertawakal.

Keempat — Lawan penyakit hati

Jangan sombong, jangan bakhil, dan jangan merasa mampu tanpa pertolongan Allah.