Media Asgar Center – Khataman Shorof Program Takhassus Angkatan III Pondok Pesantren As’adiyah Galung Beru tidak hanya menjadi momen istimewa bagi para santri, tetapi juga menghadirkan rasa syukur dan kebanggaan bagi orang tua yang menyaksikan langsung buah perjuangan anak-anak mereka.

Salah satunya dirasakan Rasdiana Ansar, S.Pd., ibu dari Alif Ansadi Nur. Seusai prosesi khataman, Rasdiana mengunggah foto putranya melalui akun Facebook pribadinya dengan caption sederhana, “Alhamdulillah.”

Satu kata tersebut menjadi ungkapan sederhana yang menyimpan rasa syukur dan kebahagiaan seorang ibu melihat anaknya menyelesaikan salah satu tahapan penting dalam perjalanan pendidikan pesantren.

Kebahagiaan serupa juga terlihat dari Aditya, santri kelas XII MA As’adiyah Galung Beru. Ia mengabadikan momen wisuda bersama kedua orang tuanya yang hadir menyaksikan langsung prosesi khataman.

Foto bersama tersebut menjadi kenangan sederhana, tetapi penuh makna. Di balik senyum dalam sebuah foto, ada perjuangan santri, doa orang tua, serta dukungan keluarga yang mengiringi perjalanan menuntut ilmu.

Saat diwawancarai reporter Asgar Center, Alif Ansadi Nur mengaku bersyukur dapat menyelesaikan Program Takhassus Shorof Angkatan III. Baginya, khataman menjadi pengalaman berharga sekaligus motivasi untuk terus memperdalam ilmu agama.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur bisa sampai pada tahap khataman ini. Tentu ada proses dan perjuangan yang harus dilalui, terutama dalam memahami materi dan membagi waktu dengan kegiatan belajar lainnya,” ujarnya.

Alif juga menyampaikan terima kasih kepada para guru yang telah membimbingnya selama mengikuti program tersebut serta kepada kedua orang tuanya yang senantiasa memberikan dukungan dan doa.

“Terima kasih kepada guru-guru yang telah membimbing dan mengajarkan kami dengan sabar. Terima kasih juga kepada orang tua yang selalu mendoakan dan mendukung. Khataman ini bukan akhir, tetapi menjadi motivasi bagi saya untuk terus belajar dan mengamalkan ilmu yang telah didapat,” ungkapnya.

Menurut Alif, ilmu Shorof yang dipelajari menjadi bekal penting untuk memahami kitab-kitab berbahasa Arab dan memperdalam khazanah keislaman.

Khataman Shorof Angkatan III sekaligus memperlihatkan eratnya hubungan antara santri, orang tua, guru, dan pesantren dalam menjaga tradisi keilmuan. Setiap keberhasilan santri menjadi kebahagiaan bersama karena lahir dari ikhtiar yang tidak dilakukan seorang diri.