
الحكمة ضالة المؤمن أينما وجدها أخذها
“Hikmah adalah sesuatu yang hilang dari seorang mukmin. Di mana pun ia menemukannya, ia mengambilnya.”
Kemudian dikatakan:
خذ ما صفا ودع ما كدر
“Ambillah apa yang jernih dan baik, dan tinggalkan apa yang keruh.”
Maksudnya, seorang pelajar hendaknya terus mengamati, berpikir, menambah pengetahuan setiap waktu, dan mengambil manfaat dari siapa saja yang memiliki sesuatu yang dapat dipelajari.
Kisah Abu Yusuf dan Muhammad
Pengarang kemudian menukil perkataan Syekh Imam Fakhruddin al-Kasyani:
“Seorang budak perempuan milik Abu Yusuf pernah dititipkan kepada Muhammad bin al-Hasan. Muhammad kemudian bertanya kepadanya:
‘Apakah pada saat ini kamu masih mengingat sesuatu tentang ilmu fikih dari Abu Yusuf?’
Ia menjawab:
‘Tidak, kecuali bahwa Abu Yusuf sering mengulang-ulang perkataan: Sahm ad-daur sāqiṭ (bagian/saham yang berputar itu digugurkan).’
Muhammad kemudian mengingat perkataan tersebut. Ternyata persoalan itu sebelumnya merupakan masalah yang sulit baginya. Dengan perkataan tersebut, kesulitan yang dihadapinya menjadi terpecahkan.
Maka diketahui bahwa mengambil manfaat ilmu itu mungkin dilakukan dari siapa saja.”
Ungkapan سهم الدور ساقط (sahm ad-daur sāqiṭ) adalah istilah teknis dalam pembahasan fikih Hanafi tentang persoalan dawr (perhitungan yang berputar/timbal balik). Dalam konteks kisah ini, yang paling penting bukan rincian hukum matematisnya, tetapi bagaimana sebuah kalimat yang didengar dan diingat oleh seorang yang dianggap “bukan ahli fikih” ternyata menjadi kunci bagi seorang ulama untuk memecahkan persoalan.
2. Pelajaran besar dari kisah ini
A. Jangan pernah merasa terlalu tinggi untuk belajar
Ini inti paling kuat dari kisah tersebut.
Muhammad bin al-Hasan adalah seorang ulama besar. Abu Yusuf juga merupakan salah seorang imam besar dalam mazhab Hanafi. Namun, dalam cerita ini, solusi bagi persoalan ilmiah justru datang melalui seorang budak perempuan yang bukan seorang ahli fikih.
Ini memberikan tamparan halus kepada kesombongan intelektual.
Seorang alim tidak boleh berpikir:
“Saya hanya akan belajar dari orang yang lebih alim daripada saya.”
Sebab bisa jadi seseorang yang kita anggap sederhana mengetahui satu hal yang tidak kita ketahui.
Ilmu tidak selalu datang dalam bentuk ceramah panjang, kitab tebal, atau majelis resmi.
Kadang ilmu datang melalui:
- satu kalimat;
- satu pengalaman;
- satu pertanyaan;
- satu kesalahan;
- seorang santri;
- seorang anak kecil;
- seorang petani;
- seorang pekerja;
- bahkan orang yang menurut kita tidak memiliki keilmuan tinggi.
Yang menentukan bukan siapa yang berbicara saja, tetapi apakah ada kebenaran dan manfaat yang dapat diambil dari perkataannya.
3. “Ambillah yang jernih, tinggalkan yang keruh”
Kalimat:
خذ ما صفا ودع ما كدر
mengandung prinsip yang sangat penting dalam belajar.
Tidak semua yang kita dengar harus ditelan mentah-mentah.
Seorang pelajar harus memiliki dua kemampuan sekaligus:
terbuka untuk menerima dan kritis dalam menyaring.
Jangan menjadi orang yang menolak ilmu hanya karena pembawanya bukan tokoh yang kita kagumi.
Tetapi jangan pula menerima semua perkataan hanya karena yang mengucapkannya adalah orang terkenal.
Maka prinsipnya:
Terima kebenarannya, periksa sumbernya, pahami konteksnya, dan tinggalkan bagian yang keliru.
Ini sangat relevan di zaman media sosial.
Hari ini seseorang bisa mendapatkan ribuan informasi dalam sehari. Kalau semua diterima tanpa tatsabbut, maka banyaknya informasi justru tidak menghasilkan ilmu, tetapi kebingungan.
4. Ilmu membutuhkan “telinga yang rendah hati”
Ada hubungan yang sangat kuat antara kisah ini dengan pembahasan kita sebelumnya tentang tatsabbut.
Orang yang berhati-hati sebelum berbicara biasanya juga rendah hati ketika mendengar.
Ia tidak buru-buru mengatakan:
“Saya sudah tahu.”
Tetapi berkata dalam hati:
“Barangkali ada sesuatu yang belum saya ketahui dari perkataan ini.”
Inilah mentalitas seorang pembelajar.
Karena itu, seorang guru pun harus tetap menjadi murid.
Guru yang berhenti belajar perlahan-lahan akan berhenti berkembang.
5. Jangan meremehkan orang yang sedang berbicara
Kisah ini juga mengajarkan adab mendengar.
Bayangkan jika Muhammad langsung berpikir:
“Dia hanya seorang budak perempuan. Apa yang mungkin dia ketahui tentang fikih?”
Mungkin informasi penting itu tidak pernah keluar.
Namun ia bertanya.
Dan ketika mendapatkan jawaban, ia mendengarkannya.
Inilah sikap ilmiah.
Kadang-kadang persoalan kita bukan karena tidak ada jawaban, tetapi karena kita terlalu sombong untuk mendengar jawaban yang datang dari arah yang tidak kita sangka.
6. Satu kalimat bisa menjadi kunci ilmu
Ada pelajaran menarik lainnya.
Perempuan tersebut tidak memberikan kuliah fikih kepada Muhammad. Ia hanya mengingat satu kalimat yang sering diucapkan Abu Yusuf:
سهم الدور ساقط
Hanya satu kalimat.
Tetapi bagi Muhammad, kalimat itu menjadi kunci untuk membuka persoalan yang sebelumnya sulit.
Ini mengajarkan kepada kita bahwa dalam proses belajar:
Jangan meremehkan pengetahuan kecil.
Satu ayat bisa mengubah hidup seseorang.
Satu hadis bisa menjadi pegangan.
Satu nasihat guru bisa diingat puluhan tahun.
Satu kalimat dalam kitab bisa menyelesaikan kebuntuan berpikir.
Karena itu, pelajar harus memiliki kebiasaan mencatat, mengingat, dan merenungkan hal-hal penting yang didengar.
7. Belajar dari siapa saja bukan berarti menerima semuanya
Ini penting agar prinsip tersebut tidak disalahpahami.
Ungkapan “belajar dari siapa saja” bukan berarti:
“Semua pendapat harus dianggap benar.”
Bukan.
Justru kalimat “ambil yang jernih dan tinggalkan yang keruh” memberikan batas.
Ada dua sikap ekstrem:
Pertama: terlalu tertutup
“Kalau bukan dari guru saya, saya tidak mau belajar.”
Kedua: terlalu terbuka tanpa penyaringan
“Apa pun yang saya dengar pasti benar.”
Keduanya berbahaya.
Sikap ilmiah berada di tengah:
Terbuka ketika mendengar, kritis ketika menilai, dan rendah hati ketika menemukan kebenaran.
8. Relevansinya bagi guru dan pembina santri
Bagi seorang guru, kisah ini sangat mendalam.
Jangan menganggap bahwa guru selalu menjadi satu-satunya sumber pengetahuan bagi santri.
Kadang seorang guru justru belajar dari pertanyaan santrinya.
Kadang kesalahan santri membuat guru menemukan metode pendidikan baru.
Kadang pengalaman santri membuka perspektif yang tidak pernah terpikirkan oleh gurunya.
Karena itu, guru yang baik tidak hanya berkata:
“Dengarkan saya.”
Tetapi juga mampu berkata:
“Coba ceritakan apa yang kamu pikirkan.”
“Mengapa kamu berpikir seperti itu?”
“Apa yang kamu temukan?”
“Apa yang bisa kita pelajari dari pengalamanmu?”
Dengan demikian, kelas tidak menjadi tempat guru menumpahkan ilmu, tetapi menjadi tempat guru dan murid bersama-sama mencari kebenaran.
9. Relevansinya dengan budaya pesantren
Dalam tradisi pesantren, ini sangat dekat dengan konsep adab terhadap ilmu.
Santri harus memiliki:
mata yang mau mengamati,
telinga yang mau mendengar,
akal yang mau berpikir,
hati yang mau menerima,
dan sikap yang mau mengakui bahwa dirinya masih belajar.
Sebab orang yang merasa sudah tahu semuanya sebenarnya telah menutup pintu pertumbuhan ilmunya sendiri.
Maka seorang santri hendaknya memiliki prinsip:
“Saya belajar kepada guru saya, tetapi saya tidak membatasi datangnya ilmu hanya melalui guru saya.”
Guru tetap menjadi pembimbing dan penjaga arah, sementara kehidupan menyediakan begitu banyak ibrah yang dapat dipelajari.
10. Hubungan dengan perkataan Abu Yusuf
Teks kemudian menguatkan kisah tersebut dengan perkataan Abu Yusuf ketika ditanya:
بم أدركت العلم؟
“Dengan apa engkau memperoleh ilmu?”
Ia menjawab:
ما استنكفت من الاستفادة، وما بخلت بالإفادة
“Aku tidak pernah merasa gengsi untuk mengambil manfaat (belajar), dan aku tidak pernah pelit untuk memberikan manfaat (mengajarkan ilmu).”
Ini luar biasa.
Ada dua sayap seorang pencari ilmu:
1. Tidak gengsi menerima ilmu
Jangan merasa terlalu senior untuk belajar.
2. Tidak pelit memberikan ilmu
Jangan menyimpan ilmu hanya untuk diri sendiri.
Jadi, seorang alim bukan hanya pembelajar, tetapi juga pemberi manfaat.
11. Rumusan yang sangat kuat untuk bahan kajian
Dari seluruh bagian ini, saya kira pesan utamanya dapat dirumuskan:
“Dalam mencari ilmu, jangan melihat kecilnya orang yang menyampaikan, tetapi lihatlah kebenaran dan manfaat dari apa yang disampaikannya. Jangan pula menerima segala sesuatu tanpa penyaringan. Ambillah yang jernih dan tinggalkan yang keruh.”
Dan jika dikaitkan dengan pembahasan kita sebelumnya tentang tatsabbut, maka alurnya menjadi sangat indah:
Tawadhu’ → mau mendengar → tatsabbut → menyaring → memahami → mengambil manfaat → mengamalkan → mengajarkan kembali.
Penutup yang cocok untuk kajian
Ilmu tidak selalu datang dari orang yang kita anggap besar. Karena itu, jangan terlalu besar untuk mendengar dan jangan terlalu kecil untuk berbagi. Bisa jadi orang yang kita pandang sederhana menyimpan satu kalimat yang menjadi kunci atas persoalan besar yang selama ini kita cari jawabannya.
Jadilah seperti pencari hikmah: telinga terbuka, akal bekerja, hati rendah, tetapi tetap kritis dalam menyaring. Sebab ilmu dapat datang dari siapa saja, sementara tugas seorang penuntut ilmu adalah mengenali, memverifikasi, mengambil yang jernih, dan meninggalkan yang keruh.




