
Media Asgar Center – Yayasan Pondok Pesantren As’adiyah Galung Beru menggelar rapat koordinasi bersama pimpinan madrasah, pembina, dan dewan guru untuk membahas sejumlah agenda serta kebijakan pendidikan dan kepesantrenan, Kamis (10/9/2026).
Rapat dipimpin Ketua Yayasan Pondok Pesantren As’adiyah Galung Beru, KM. Rusli Rahman, S.Fil.I., M.Pd., dan dihadiri kepala Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), pembina, serta dewan guru.
Salah satu keputusan rapat menetapkan libur bulanan pada Jumat, 11 September 2026. Penjemputan santri dijadwalkan setelah salat Jumat. Seluruh santri diwajibkan kembali ke asrama pada Senin, 14 September 2026 pukul 06.30 Wita untuk mengikuti upacara pagi sekaligus melanjutkan aktivitas pendidikan dan kepesantrenan.
Rapat juga menegaskan kembali tata tertib penggunaan telepon genggam di lingkungan pesantren. Santri yang kedapatan membawa atau menggunakan telepon genggam saat razia oleh pengasuh dan pembina akan dikenakan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku di pesantren.
Kepala MTs As’adiyah Galung Beru, Yulianti, M.Pd., mengatakan penegakan aturan tersebut dilakukan untuk menjaga kedisiplinan dan mendukung kelancaran proses pembelajaran santri.
“Penertiban ini dilakukan untuk mendisiplinkan santri sekaligus menjaga agar proses pembelajaran, baik di madrasah maupun di lingkungan kepesantrenan, dapat berjalan dengan baik,” ujar Yulianti.
Telepon genggam yang ditemukan dalam razia akan diamankan dan dapat diambil kembali setelah penyelesaian sanksi administratif sebesar Rp500.000 sesuai kebijakan pesantren.
Ketua Yayasan KM. Rusli Rahman mengatakan, aturan tersebut bukan semata-mata untuk memberikan sanksi, tetapi menjadi bagian dari upaya membangun budaya disiplin di kalangan santri.
“Pesantren memiliki aturan yang harus dipatuhi bersama. Penegakan disiplin ini bukan untuk mempersulit santri, tetapi untuk membantu mereka membangun kebiasaan yang tertib, bertanggung jawab, dan mampu mengatur diri selama mengikuti pendidikan di pesantren,” kata Rusli Rahman.
Menurutnya, pendidikan pesantren tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui pembiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, kedisiplinan menjadi bagian penting dalam proses pembentukan karakter santri.
Selain penguatan disiplin, rapat juga membahas pengembangan bakat dan minat santri melalui kegiatan ekstrakurikuler. Yayasan menetapkan Hadrah dan Marawis dilaksanakan setiap Sabtu sore, Pencak Silat Pagar Nusa setiap Rabu sore, dan Pramuka setiap Jumat sore. Sementara jadwal Tilawah Al-Qur’an masih dalam tahap penyusunan.
Rusli Rahman menegaskan, pengembangan potensi santri harus berjalan beriringan dengan pembinaan akademik dan keagamaan.
“Kami ingin pesantren menjadi ruang bagi santri untuk tumbuh secara utuh. Mereka tidak hanya belajar ilmu agama dan ilmu umum, tetapi juga memiliki kesempatan mengembangkan bakat, keterampilan, kedisiplinan, dan kemampuan bekerja sama melalui kegiatan ekstrakurikuler,” jelasnya.
Ia berharap seluruh unsur pesantren dapat menjalankan hasil rapat secara konsisten dan membangun komunikasi yang baik agar setiap program berjalan terarah.
“Yang kita bangun bukan hanya sistem, tetapi juga budaya pesantren. Karena itu, kepala madrasah, pembina, dan guru harus berjalan bersama agar pembinaan santri dapat berlangsung secara berkesinambungan,” harapnya. (Imam)




