Papan nama pesantren

Media Asgar Center — Sejarah adalah cermin perjalanan yang digunakan manusia untuk merefleksikan diri, menelusuri jejak masa lalu, memahami realitas masa kini, serta memproyeksikan harapan di masa depan.

Dari sejarah, sebuah generasi belajar tentang perjuangan, pengorbanan, dan nilai-nilai yang diwariskan. Bahkan dalam banyak keadaan, sejarah menjadi penguat jati diri sekaligus penanda arah sebuah peradaban.

Jika direnungi lebih dalam, sejatinya setiap manusia adalah pelaku sejarah bagi masa yang akan datang. Kemajuan yang diraih hari ini merupakan kelanjutan dari fase-fase perjuangan sebelumnya yang tidak pernah terputus. Demikian pula berdirinya Pondok Pesantren As’adiyah Baburrahman Galung Beru, yang lahir dari proses panjang dan penuh perjuangan.

Galung Beru merupakan nama sebuah dusun yang berada di wilayah administratif Desa Gattareng, Kecamatan Gantarang, Kabupaten Bulukumba, sekitar 14 kilometer dari pusat Kota Bulukumba.

Nama dusun inilah yang kemudian diabadikan menjadi nama pesantren yang didirikan oleh Gurutta Kyai Rusli, yakni Pondok Pesantren As’adiyah Baburrahman Galung Beru.

Sebagaimana lazimnya tradisi pesantren di Nusantara, nama wilayah tempat berdiri seringkali dilekatkan pada nama pesantren sebagai penanda identitas, jejak geografis, sekaligus bentuk penghormatan terhadap tanah tempat tumbuhnya perjuangan dakwah dan pendidikan.

Penulis: Jusman Imam (Founding Asgar Center)