Pernah Jadi Santri, Kini Kepala KUA, Syaripuddin Bagikan Bekal Sukses di Penutupan MATAMUDA

Media Asgar Center – Rangkaian kegiatan Masa Ta’aruf Murid Madrasah (MATAMUDA) Tahun Pelajaran 2026/2027 Pondok Pesantren As’adiyah Galung Beru resmi ditutup pada Rabu (15/7/2026). Penutupan dilakukan oleh Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Gantarang, Syaripuddin, S.Ag., S.Pd.I., yang hadir mewakili Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bulukumba.

Acara tersebut dihadiri Ketua Yayasan Pondok Pesantren As’adiyah Galung Beru, KM. Rusli Rahman, para kepala madrasah di lingkungan Pondok Pesantren As’adiyah Galung Beru, Direktur Celebes Public Speaking, Dr. Takdir Khair, S.Pd.I., M.Pd., CPSM, Ketua Forum Komunikasi Mahasiswa Alumni As’adiyah (FKMA) Kabupaten Bulukumba, Azhari, serta dewan guru dan para pembina yang mengikuti kegiatan dengan penuh antusias.

Dalam sambutannya, Syaripuddin tidak hanya menyampaikan pesan motivasi, tetapi juga membagikan kisah perjalanan hidupnya sebagai seorang santri. Ia mengenang masa-masa menuntut ilmu di Pondok Pesantren DDI Kaballangan, Kabupaten Pinrang, yang menurutnya menjadi fondasi hingga mampu mengemban amanah sebagai Kepala KUA.

“Saya bisa berdiri di sini bukan karena proses yang instan. Ada banyak ujian, tantangan, dan perjuangan yang harus saya lalui sejak menjadi santri. Semua itu membentuk karakter dan mengantarkan saya hingga menjadi Kepala KUA,” ungkapnya.

Di hadapan para santri baru, ia mengajak mereka memahami bahwa keputusan orang tua memasukkan anak ke pesantren merupakan wujud kasih sayang dan investasi masa depan.

“Orang tua tidak mengasingkan kalian. Tidak ada orang tua yang rela berpisah jauh dengan anaknya. Kalian dititipkan di pesantren agar ditempa menjadi pribadi yang kuat, berilmu, berakhlak, dan siap menghadapi kehidupan,” pesannya.

Menurutnya, menjadi santri adalah sebuah kehormatan yang tidak dimiliki semua anak. Karena itu, kesempatan belajar di pesantren harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

“Kalian adalah anak-anak pilihan. Tidak semua anak memiliki kesempatan mondok di pesantren. Karena itu, jangan sia-siakan kesempatan ini. Jangan pulang sebelum menjadi hebat. Bawalah pulang kesuksesan, bawalah hafalan Al-Qur’an ke rumah, dan jadilah anak yang membanggakan orang tua, guru, agama, serta bangsa,” ujarnya yang disambut tepuk tangan peserta.

Syaripuddin juga mengingatkan pentingnya memanfaatkan usia muda untuk belajar. Ia mengutip perumpamaan para ulama bahwa belajar pada masa kecil akan melekat kuat sepanjang hayat.

“Belajar di waktu kecil itu seperti menulis di atas batu. Tulisannya akan tetap membekas. Lihatlah batu nisan yang telah berusia ratusan tahun, tulisannya masih dapat dibaca hingga hari ini. Sebaliknya, belajar di usia dewasa ibarat menulis di atas air, lebih mudah hilang jika tidak terus diulang,” tuturnya.

Penutupan MATAMUDA berlangsung dalam suasana hangat dan penuh haru. Selama beberapa hari pelaksanaan, para santri baru telah mengikuti berbagai materi pembinaan, mulai dari penguatan nilai-nilai kepesantrenan, tata krama, moderasi beragama, wawasan kebangsaan, kepemimpinan, kesehatan, literasi digital, pencegahan perundungan, hingga pengembangan karakter melalui beragam aktivitas edukatif.

Ketua panitia menyampaikan harapannya agar seluruh rangkaian MATAMUDA menjadi fondasi awal bagi para santri dalam menjalani kehidupan di pesantren dengan penuh semangat, disiplin, dan tanggung jawab.

Dengan berakhirnya MATAMUDA 2026, para santri kini resmi memulai perjalanan sebagai bagian dari keluarga besar Pondok Pesantren As’adiyah Galung Beru. Bekal ilmu, adab, dan motivasi yang mereka peroleh selama masa ta’aruf diharapkan menjadi pijakan untuk tumbuh sebagai generasi santri yang berilmu, berakhlakul karimah, mandiri, serta siap memberikan manfaat bagi agama, masyarakat, dan bangsa.