
Sebuah Renungan atas Syair Imam Asy-Syafi’i
Di zaman yang serba instan seperti sekarang, syair ini terasa seperti suara yang datang dari masa lalu untuk mengoreksi cara berpikir manusia modern. Banyak orang ingin mencapai hasil yang besar dengan usaha yang kecil. Ingin menjadi alim tanpa tekun belajar, ingin kaya tanpa bekerja keras, ingin dihormati tanpa memperbaiki akhlak, bahkan ingin dekat dengan Allah tanpa bersungguh-sungguh dalam ibadah.
Padahal sunnatullah tidak pernah berubah. Allah menjadikan dunia sebagai tempat ujian, bukan tempat menerima hasil tanpa perjuangan. Karena itulah syair ini dibuka dengan kalimat yang sangat kuat:
“Kesungguhan mendekatkan segala sesuatu yang jauh, dan membuka setiap pintu yang tertutup.”
Kalimat ini sesungguhnya bukan hanya berbicara tentang belajar, tetapi tentang seluruh kehidupan.
Jarak antara seseorang dengan cita-citanya bukan ditentukan oleh seberapa jauh tujuan itu berada, melainkan oleh seberapa besar kesungguhannya untuk melangkah. Banyak orang gagal bukan karena tidak mampu, tetapi karena berhenti sebelum sampai. Sebaliknya, banyak orang yang tampak biasa saja justru berhasil karena tidak pernah berhenti berjalan.
Kesungguhan memiliki kekuatan yang sering kali melampaui kecerdasan. Orang yang cerdas tetapi mudah menyerah akan kalah dengan orang biasa yang tekun. Sebab kecerdasan hanya memberi kemudahan memahami sesuatu, sedangkan kesungguhan membuat seseorang tetap bertahan ketika kesulitan datang.
Di pesantren, kita sering menyaksikan santri yang pada awalnya lambat membaca Al-Qur’an, tetapi karena istiqamah mengulang setiap hari, akhirnya mampu menjadi guru tahsin. Ada pula santri yang dahulu kesulitan menghafal, namun karena tidak pernah berhenti murajaah, akhirnya menjadi hafiz. Ini membuktikan bahwa keberhasilan bukanlah hadiah bagi yang paling pintar, melainkan bagi yang paling sabar dalam berproses.
Namun syair ini tidak berhenti pada pembahasan tentang usaha. Imam Asy-Syafi’i mengingatkan satu kenyataan yang sering membuat manusia bingung, yaitu tentang pembagian rezeki.
Beliau menggambarkan bahwa ada orang yang cerdas tetapi hidup sederhana, sementara ada orang yang tidak memiliki banyak ilmu justru diberi kelapangan harta. Sekilas keadaan ini tampak tidak adil jika dilihat hanya dengan logika manusia. Tetapi justru di sinilah letak pendidikan tauhid.
Allah tidak pernah menjanjikan bahwa setiap orang berilmu pasti menjadi kaya. Yang Allah janjikan adalah kemuliaan ilmu, bukan kemewahan dunia. Firman Allah:
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)
Perhatikan, Allah menyebut derajat, bukan harta. Sebab kemuliaan seseorang tidak selalu tampak pada apa yang dimilikinya, tetapi pada manfaat yang ia berikan kepada orang lain.
Inilah yang sering terlupakan oleh masyarakat modern. Kita terlalu sering mengukur keberhasilan dengan angka, jabatan, kendaraan, rumah, dan saldo rekening. Akibatnya, ketika melihat seorang guru, ustaz, atau ulama hidup sederhana, sebagian orang menganggap ilmunya tidak membawa manfaat.
Padahal sejarah membuktikan sebaliknya.
Imam Nawawi hampir tidak memiliki harta yang banyak, tetapi kitab-kitabnya dipelajari hingga hari ini.
Imam Al-Bukhari tidak dikenal karena kekayaannya, tetapi karena hadis-hadis yang beliau kumpulkan menjadi cahaya bagi umat Islam sepanjang zaman.
Sebaliknya, berapa banyak orang kaya pada zamannya yang kini bahkan namanya telah dilupakan?
Ini mengajarkan bahwa nilai seseorang tidak diukur oleh apa yang ia simpan, tetapi oleh apa yang ia tinggalkan sebagai manfaat.
Syair berikutnya bahkan lebih tajam lagi. Penyair berkata:
“Engkau ingin menjadi ahli fikih tanpa bersusah payah? Itu hanyalah angan-angan orang yang gila.”
Ungkapan ini tentu bukan untuk menghina, tetapi untuk menyadarkan. Sebab mustahil seseorang memperoleh sesuatu yang bernilai tinggi tanpa pengorbanan yang sepadan.
Kita menerima kenyataan bahwa mencari nafkah membutuhkan kerja keras. Orang rela bangun sebelum matahari terbit, menempuh perjalanan jauh, menghadapi panas dan hujan demi mendapatkan penghasilan.
Ironisnya, ketika berbicara tentang ilmu, sebagian orang justru berharap cukup mendengar ceramah beberapa menit di media sosial, lalu merasa telah memahami agama secara utuh. Ada yang ingin menjadi ahli Al-Qur’an tetapi enggan mengulang hafalan. Ada yang ingin fasih membaca kitab tetapi malas membuka kamus. Ada pula yang ingin menjadi pemimpin umat tetapi tidak siap ditempa oleh disiplin dan pengorbanan.
Padahal ilmu memiliki harga yang jauh lebih mahal daripada harta.
Harta diwariskan oleh manusia biasa.
Sedangkan ilmu adalah warisan para nabi.
Maka wajar apabila jalan menuju ilmu lebih berat daripada jalan menuju kekayaan.
Bagi seorang santri, syair ini adalah cermin. Ketika merasa lelah menghafal, sulit memahami pelajaran, atau rindu keluarga, hendaknya ia menyadari bahwa semua itu bukan tanda Allah meninggalkannya. Justru bisa jadi itulah cara Allah mempersiapkan dirinya menjadi orang yang kelak memberi manfaat kepada banyak manusia.
Kesulitan dalam belajar bukanlah musuh, melainkan bagian dari proses pendidikan jiwa. Sebab ilmu tidak hanya membentuk kecerdasan akal, tetapi juga membentuk keteguhan hati, kesabaran, kerendahan hati, dan keikhlasan. Orang yang memperoleh ilmu tanpa perjuangan sering kali tidak menghargai ilmunya. Sebaliknya, orang yang memperoleh ilmu melalui air mata, rasa lelah, dan kesabaran akan menjaga ilmu itu sepanjang hidupnya.
Pada akhirnya, syair ini mengajarkan satu pelajaran besar: kesungguhan adalah bentuk ibadah, sedangkan hasil adalah hak prerogatif Allah. Tugas manusia bukan memastikan keberhasilan, tetapi memastikan dirinya tidak berhenti berusaha. Karena dalam pandangan Islam, keberhasilan sejati bukan hanya ketika tujuan tercapai, melainkan ketika seseorang tetap istiqamah berjalan di jalan yang benar, sekalipun hasilnya belum tampak.
Itulah sebabnya para ulama mengatakan:
“Allah tidak menilai seberapa cepat engkau sampai, tetapi seberapa tulus engkau berjalan menuju-Nya.”
Maka selama seorang penuntut ilmu masih menjaga adab, memperbaiki niat, dan terus bersungguh-sungguh, sesungguhnya ia sedang menempuh jalan kemuliaan, meskipun dunia belum melihat hasilnya. Sebab di sisi Allah, proses yang dilandasi keikhlasan sering kali lebih bernilai daripada hasil yang lahir karena ambisi.




