Pontren As’adiyah Galung Beru Akan Gelar Khataman 30 Juz Jelang Puncak Hari Santri Nasional 2025Anak-anakku, para penuntut ilmu yang dimuliakan Allah…
Coba kita renungkan syair ini. Penyair berkata,
تمنيت أن تمسي فقيها مناظرا بغير عناء والجنون فنون
“Engkau ingin menjadi seorang faqih tanpa bersusah payah? Itu hanyalah angan-angan yang tidak masuk akal.”
Mengapa penyair menggunakan kalimat yang begitu keras?
Karena ada satu penyakit yang sering menyelinap ke dalam hati penuntut ilmu, yaitu merasa cukup dengan cita-cita, tetapi tidak mau membayar harga cita-cita itu.
Banyak orang bercita-cita ingin menjadi ulama. Tetapi sedikit yang mau hidup seperti ulama.
Semua ingin sampai di puncak gunung. Tetapi tidak semua mau mendaki.
Semua ingin memetik buah yang manis. Tetapi tidak semua mau menanam pohonnya.
Padahal Allah menjadikan dunia ini dārul asbāb, negeri sebab-akibat. Allah Maha Kuasa memberikan ilmu tanpa belajar, sebagaimana Dia mengajarkan Nabi Adam. Tetapi Allah tidak menjadikan itu sebagai sunnah bagi manusia. Sunnah Allah adalah: ilmu lahir dari kesungguhan.
Ilmu Itu Warisan Nabi, Maka Jalannya Tidak Semudah Mencari Dunia
Perhatikan syair berikutnya.
وليس اكتساب المال دون مشقة
“Mencari harta saja tidak akan berhasil tanpa kesusahan.”
Kalau mencari uang saja harus bangun pagi, berpanas-panasan, bahkan terkadang harus meninggalkan keluarga, bagaimana mungkin mencari ilmu yang merupakan warisan para nabi justru ingin ditempuh dengan santai?
Anak-anakku…
Orang yang bekerja di sawah tidak pernah mengeluh bajunya kotor.
Nelayan tidak pernah marah karena harus terkena air laut.
Mengapa?
Karena mereka tahu, pekerjaan memang memiliki konsekuensi.
Maka jangan heran jika menuntut ilmu juga memiliki konsekuensi.
Kalau menghafal terasa berat, itu wajar.
Kalau mengulang pelajaran sampai berkali-kali, itu wajar.
Kalau terkadang air mata jatuh karena sulit memahami pelajaran, itu juga wajar.
Karena memang ilmu sedang menguji, apakah kita benar-benar mencintainya atau hanya menyukainya ketika mudah.
Kemalasan Lebih Berbahaya daripada Kebodohan
Kemudian Abu Thayyib berkata,
ولم أر في عيوب الناس عيبًا كنقص القادرين على التمام
“Aku tidak melihat cacat yang lebih buruk daripada orang yang mampu berbuat sempurna tetapi tidak mau bersungguh-sungguh.”
Perhatikan baik-baik.
Beliau tidak mengatakan bahwa cacat terbesar adalah bodoh.
Tidak pula mengatakan miskin.
Tetapi beliau mengatakan, cacat terbesar adalah menyia-nyiakan kemampuan yang Allah berikan.
Ada santri yang Allah beri kecerdasan.
Ada yang Allah beri hafalan kuat.
Ada yang Allah beri kesehatan.
Ada yang Allah beri kesempatan belajar di pesantren.
Tetapi semuanya tidak berarti apa-apa kalau tidak digunakan.
Ibarat seseorang memiliki benih unggul tetapi tidak pernah menanamnya.
Yang dipersalahkan bukan benihnya.
Yang dipersalahkan adalah pemiliknya.
Karena itu, jangan iri kepada kemampuan orang lain.
Yang perlu kita khawatirkan adalah apakah kemampuan yang Allah titipkan kepada kita sudah digunakan sebaik-baiknya atau belum.
Mengapa Ulama Menghidupkan Malam?
Kemudian penyair berkata,
لابد لطالب العلم من سهر الليالي
“Seorang penuntut ilmu harus menghidupkan malam.”
Mengapa malam?
Karena malam adalah waktu yang paling jujur.
Siang hari kita bisa belajar karena dilihat orang.
Tetapi malam…
Tidak ada yang melihat.
Kalau seseorang tetap membuka kitab ketika orang lain tidur, berarti yang menggerakkannya bukan pujian manusia.
Yang menggerakkannya adalah kecintaan kepada ilmu.
Itulah sebabnya banyak ulama besar memiliki hubungan yang sangat akrab dengan malam.
Malam bukan hanya untuk membaca kitab.
Tetapi malam adalah waktu membersihkan hati.
Karena ilmu yang masuk ke kepala belum tentu masuk ke hati.
Sedangkan ilmu yang masuk ke hati akan menjadi hikmah.
Tidur Itu Nikmat, Tetapi Ada Nikmat yang Lebih Besar
Penyair berkata,
تركت النوم ربى فى الليالى لأجل رضاك يا مولى الموالى
“Aku meninggalkan tidur demi mencari keridaan-Mu, wahai Tuhanku.”
Perhatikan.
Beliau tidak mengatakan,
“Aku meninggalkan tidur demi menjadi terkenal.”
Beliau tidak mengatakan,
“Aku meninggalkan tidur agar dipuji.”
Tetapi beliau mengatakan,
“Aku meninggalkan tidur demi mencari ridha Allah.”
Di sinilah letak perbedaan antara orang yang belajar karena dunia dan orang yang belajar karena Allah.
Kalau tujuan kita hanya ijazah, maka setelah ijazah diperoleh semangat belajar akan berhenti.
Kalau tujuan kita hanya pekerjaan, maka setelah mendapat pekerjaan mungkin kitab akan ditutup.
Tetapi kalau tujuan kita adalah Allah, maka belajar akan menjadi ibadah seumur hidup.
Penutup
Anak-anakku…
Jangan pernah mengira bahwa hari-hari kalian di pesantren adalah hari yang biasa.
Saat kalian duduk di depan guru, sedang dicatat oleh malaikat.
Saat kalian mengulang hafalan yang terasa berat, Allah sedang meninggikan derajat kalian sedikit demi sedikit.
Saat kalian menahan kantuk demi membaca Al-Qur’an, boleh jadi pada saat itu Allah sedang menulis nama kalian sebagai ahli ilmu.
Ketahuilah, orang besar bukanlah orang yang hidupnya paling mudah, tetapi orang yang paling lama bersabar dalam prosesnya.
Ingatlah, pohon yang paling tinggi adalah pohon yang akarnya paling dalam. Begitu pula seorang alim. Semakin tinggi ilmunya, semakin panjang perjuangannya. Maka jangan takut dengan sulitnya belajar, tetapi takutlah jika hati mulai merasa cukup sebelum benar-benar berilmu.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk penuntut ilmu yang tidak hanya cerdas akalnya, tetapi juga kuat kesabarannya, ikhlas niatnya, dan istiqamah langkahnya hingga akhir hayat. Āmīn Yā Rabbal ‘Ālamīn.




