Penulisan sejarah tersebut dilakukan melalui rangkaian wawancara khusus bersama Ketua Yayasan sebagai narasumber utama.
Tim Asgar Center menerapkan sistem wawancara per sesi judul edisi agar setiap pembahasan dapat dikaji lebih mendalam, terarah, dan tersusun secara sistematis.
Beberapa tema yang mulai digali dalam wawancara meliputi latar belakang berdirinya pesantren, proses penamaan yayasan, perjuangan para pendiri, perkembangan pendidikan, hingga dinamika dakwah dan pembinaan santri dari masa ke masa.
Koordinator Asgar Center, Jusman Imam menyampaikan bahwa banyak kisah perjuangan para pendiri yang selama ini hanya diwariskan melalui cerita lisan.
“Karena itu, dokumentasi tertulis dianggap penting agar sejarah pesantren tidak hilang ditelan zaman serta dapat menjadi sumber inspirasi bagi generasi penerus,” jelas Imam, Rabu (13/5/2026).
Bagi Asgar Center, proyek ini bukan sekadar penulisan sejarah biasa, melainkan bentuk penghormatan terhadap jasa para guru, tokoh masyarakat, dan seluruh pihak yang telah ikut membesarkan pesantren. Selain menjadi arsip kelembagaan, hasil penulisan tersebut juga diproyeksikan akan diterbitkan dalam bentuk buku sejarah perjalanan Pondok Pesantren As’adiyah Galung Beru.
Buku tersebut nantinya diharapkan menjadi sumber literasi pesantren yang mampu memperkenalkan jejak perjuangan, identitas, serta nilai-nilai keas’adiyahan kepada santri, alumni, dan masyarakat luas.