Jusran, Santri As’adiyah Galung Beru Sigap Menopang Pembawa Baki di Tengah Upacara HUT RIMedia Asgar Center – Prosesi pengibaran Sang Merah Putih pada Upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia Tingkat kecamatan Gantarang kabupaten Bulukumba berlangsung khidmat. Namun, di tengah ketegapan barisan Pasukan Pengibar Bendera (Paskibraka), sebuah aksi spontan justru memperlihatkan sisi kemanusiaan dan solidaritas antarpeserta.
Seorang anggota Paskibraka Dian Ayu, siswa UPT SMA Negeri 19 Bulukumba yang bertugas sebagai pembawa baki tiba-tiba mengalami kondisi kurang baik hingga hampir terjatuh saat menjalankan tugas, Senin (17/8/2026).
Melihat kondisi tersebut, Jusran, santri kelas XII MA Pondok Pesantren As’adiyah Galung Beru yang bertugas sebagai anggota Barisan 8, segera memberikan bantuan bersama rekannya yang berada di sisi lain.
Jusran menopang tangan rekannya agar tetap berdiri dan tidak terjatuh di tengah lapangan.
Tindakan tersebut dilakukan secara spontan tanpa mengabaikan tanggung jawab mereka sebagai bagian dari pasukan pengibar bendera.
Jusran menceritakan, rekannya mulai mengalami pusing ketika berada di tengah lapangan, tepat saat barisan melewati depan tribun.
“Di tengah lapangan, Dian Ayu mulai pusing. Pas di depan tribun tiba-tiba langsung mau jatuh, jadi langsung kupegang tangannya sama temanku di sebelah kanan. Pas melewati haluan kanan di depan tribun, saya lepas tangan karena dia sudah merasa baikan. Begitu sampai di tempat start, kembali lagi ambruk,” ungkap Jusran.
Situasi tersebut berlangsung singkat. Namun, aksi sigap Jusran dan rekannya menunjukkan bahwa tugas sebagai Paskibraka bukan hanya tentang ketepatan gerakan dan kedisiplinan menjaga formasi.
Ada nilai lain yang tidak kalah penting, yakni solidaritas dan tanggung jawab terhadap sesama anggota tim.
Dalam kondisi tertentu, tuntutan menjaga formasi dapat berhadapan dengan situasi yang membutuhkan respons cepat. Pada momen itulah nilai kebersamaan menjadi penting.
Jusran memilih memastikan rekannya tetap aman ketika kondisi fisiknya mulai menurun.
Bagi seorang santri, tindakan tersebut juga menjadi cerminan nilai yang dibangun melalui pendidikan pesantren: menjaga amanah, menghargai sesama, dan membantu orang lain ketika membutuhkan.
Amanah yang diemban Jusran sebagai anggota Barisan 8 tidak berhenti pada tugas mengapit pembawa baki. Di tengah situasi tersebut, ia juga menunjukkan bentuk tanggung jawab terhadap rekannya.
Apa yang dilakukan Jusran mungkin terlihat sederhana. Ia hanya meraih tangan seorang rekan yang hampir terjatuh.
Namun dari tindakan kecil itu tersimpan pesan tentang bagaimana sebuah tim seharusnya bekerja: ketika satu orang melemah, yang lain hadir untuk menguatkan.
Tidak ada panggung khusus untuk tindakan tersebut. Tidak ada penghargaan yang disiapkan. Jusran hanya melakukan apa yang menurutnya harus dilakukan.
Sebab barisan yang kuat bukan hanya barisan yang mampu berdiri tegap dalam satu formasi, tetapi barisan yang tidak membiarkan satu pun anggotanya jatuh sendirian.




