
Kisah Fakhrul Islami Al Irsabandy yang diceritakan dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim ini mengandung pelajaran penting bagi para penuntut ilmu, guru, santri, dan siapa saja yang sedang menempuh jalan menuju kemuliaan hidup. Kisahnya sederhana: seorang ulama yang rela mengumpulkan kulit semangka yang dibuang orang daripada menggantungkan diri pada pemberian orang lain.
Namun, di balik kisah tersebut, ada persoalan besar yang perlu kita renungkan: bagaimana menjaga kehormatan diri tanpa menjadi sombong, bagaimana hidup sederhana tanpa kehilangan cita-cita, dan bagaimana menerima pemberian orang lain tanpa menjadikan hati kita dikuasai ketamakan?
Dalam hikayat tersebut, Fakhrul Islam diceritakan memakan kulit-kulit semangka yang dibuang orang. Beliau mengumpulkannya sendiri di tempat-tempat sepi. Ketika seorang perempuan mengetahui keadaan itu dan melaporkannya kepada tuannya, disiapkanlah jamuan untuk sang ulama. Akan tetapi, beliau tidak berkenan menghadirinya karena ingin menjaga dirinya dari keadaan yang dapat mencederai kehormatan atau kemerdekaan batinnya.
Ada beberapa hal yang perlu kita pahami dari kisah ini.
Pertama, kesederhanaan bukanlah kehinaan. Seseorang tidak menjadi hina hanya karena makanannya sederhana, pakaiannya murah, atau kehidupannya jauh dari kemewahan. Kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh mahalnya makanan, tetapi oleh iman, akhlak, dan ketakwaannya (Inna Akramakum Indallahi Atqaakum)
Kedua, beliau berusaha mencukupkan diri. Daripada menjadikan pemberian orang sebagai sandaran hidup, beliau memilih sesuatu yang dapat diperolehnya sendiri. Sikap ini mengajarkan kemandirian dan kehati-hatian dalam menjaga hubungan dengan sesama.
Ketiga, beliau menjaga kemerdekaan hati. Pemberian seseorang terkadang menimbulkan rasa sungkan, ketergantungan, atau dorongan untuk membalas dengan sesuatu yang tidak semestinya. Orang yang menjaga dirinya berusaha agar kebutuhan duniawi tidak membuatnya kehilangan kebebasan untuk menyampaikan kebenaran.
Meski demikian, kita tidak boleh memahami kisah ini sebagai larangan mutlak menerima jamuan atau bantuan. Dalam Islam, menerima hadiah dan memenuhi undangan merupakan bagian dari akhlak yang baik. Pelajaran utamanya adalah menghindari ketergantungan dan menjaga niat, bukan menolak semua bentuk kebaikan orang lain.
Apa makna tama’ dan mengapa disebut kemiskinan yang hadir?
Dalam teks Ta’lim al-Muta’allim, terdapat ungkapan:
إِيَّاكَ وَالطَّمَعَ فَإِنَّهُ فَقْرٌ حَاضِرٌ
Iyyāka waṭ-ṭama‘a fa innahu faqrٌ ḥāḍir.
Artinya: “Jauhilah sifat tamak, karena ketamakan adalah kemiskinan yang hadir.”
Ungkapan ini dicantumkan dalam pembahasan tentang sifat loba (Menunjukkan sikap tidak pernah puas terhadap harta, kekuasaan, atau kesenangan dunia) dan tamak dalam Ta’lim al-Muta’allim.
Mengapa ketamakan disebut sebagai kemiskinan yang hadir?
Karena kemiskinan tidak selalu berarti sedikitnya harta, sebagaimana kekayaan tidak selalu berarti banyaknya harta.
Ada orang yang memiliki penghasilan sederhana, tetapi hidupnya tenang. Ia bekerja, bersyukur, dan tidak sibuk membandingkan dirinya dengan orang lain.
Sebaliknya, ada orang yang memiliki banyak harta, tetapi hatinya terus merasa kekurangan, gelisah, tidak tenang, dihantui perasaan hartanya akan cepat habis. Ketika melihat orang lain membeli kendaraan baru, ia ingin memilikinya. Ketika tetangganya membangun rumah, ia ingin membangun rumah yang lebih besar. Ketika orang lain mendapatkan pujian, ia merasa tersaingi.
Akhirnya, berapa pun yang dimiliki selalu terasa kurang. Inilah yang dimaksud dengan kemiskinan batin: kebutuhan terus bertambah karena keinginan tidak pernah selesai.
Islam tidak melarang seseorang menjadi kaya. Islam juga tidak melarang cita-cita besar, usaha, perdagangan, atau keinginan memperbaiki kehidupan keluarga.
Yang perlu dihindari adalah ketika keinginan memiliki dunia menguasai hati sehingga seseorang rela merendahkan diri, mengabaikan kejujuran, atau menggantungkan kehormatannya pada pemberian manusia.
Rasulullah saw. bersabda dalam hadis yang diriwayatkan Imam al-Bukhari dan Muslim:
“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kekayaan jiwa.”
Himmah yang luhur: jangan kecilkan cita-cita seorang penuntut ilmu
Apa itu Himmah? Yaitu tekad, niat, kehendak, atau motivasi dan kemauan yang kuat untuk mencapai sesuatu
Bagi seorang santri, himmah yang luhur berarti:
- Belajar bukan semata-mata agar mendapat pekerjaan, tetapi agar ilmu membawa manfaat.
- Menghafal Al-Qur’an bukan hanya untuk memperoleh pujian, tetapi untuk menjaga kalam Allah dan mengamalkannya.
- Menghormati guru bukan demi memperoleh nilai atau perlakuan khusus, tetapi karena memahami kedudukan ilmu dan adab.
- Bercita-cita menjadi ulama, guru, pemimpin, atau pengusaha bahkan presiden sekalipun, bukan semata-mata untuk mendapatkan kekayaan dan kedudukan, melainkan agar dapat memberi manfaat kepada masyarakat.
Pelajaran yang dapat kita ambil bukan bahwa semua pemberian harus ditolak. Bahkan, tradisi Islam menganjurkan menerima hadiah dalam keadaan yang baik.
Semoga Allah menjadikan kita pribadi yang berkecukupan, terjaga kehormatannya, luas kepeduliannya, dan tinggi cita-citanya dalam mencari ilmu serta mengabdi kepada sesama. Amin.




