Mati Sebelum Mati: Filsafat Kehidupan dalam Syair Syaikh Burhanuddin

Dalam syair tersebut terdapat ungkapan:

وفي الجهل قبل الموت موت لأهله
“Dalam kebodohan terdapat kematian sebelum kematian bagi orang-orangnya.”

Kemudian:

فأجسامهم قبل القبور قبور
“Tubuh mereka, sebelum masuk ke kuburan, telah menjadi kuburan.”

Lalu syair itu berhadapan dengan keadaan orang berilmu:

أخو العلم حي خالد بعد موته
“Orang yang berilmu tetap hidup dan kekal setelah kematiannya.”

Di sini kita menemukan sebuah paradoks:

Ada orang yang hidup tetapi sebenarnya mati.
Ada orang yang mati tetapi sebenarnya tetap hidup.

Inilah pintu pertama untuk memahami kedalaman syair tersebut.

  1. Kematian yang dimaksud bukan kematian biologis

Secara biologis, hidup berarti bernapas, bergerak, makan, berpikir, dan menjalankan fungsi tubuh.

Tetapi para ulama sering membicarakan kehidupan dalam lapisan yang lebih dalam.

Manusia memiliki: kehidupan jasmani, kehidupan akal, kehidupan hati, kehidupan spiritual, dan kehidupan sosial melalui manfaat yang ditinggalkannya.

Seseorang dapat memiliki kehidupan jasmani tetapi kehilangan kehidupan intelektual dan spiritual. Ia makan, tidur, bekerja, berbicara, dan berjalan sebagaimana manusia lainnya. Tetapi ia tidak lagi bertanya:

Mengapa saya hidup? Untuk apa saya belajar? Apa yang benar? Apa yang salah?
Apa yang harus saya perbaiki?

Dalam keadaan seperti itu, tubuhnya hidup, tetapi kesadaran hidupnya mengalami kematian.

Maka “mati sebelum mati” dapat dibaca sebagai kematian kesadaran.

  1. Kebodohan bukan sekadar tidak tahu

Ini bagian yang sangat penting. Kalau jahil diterjemahkan hanya sebagai “orang yang tidak tahu”, maka makna syair menjadi terlalu sederhana.

Sebab tidak ada manusia yang mengetahui segala sesuatu.

Bahkan ulama pun memiliki batas pengetahuan.

Maka masalahnya bukan:

“Saya tidak tahu.”

Masalahnya adalah:

“Saya tidak tahu, tetapi saya tidak mau mencari tahu.”

Lebih parah lagi:

“Saya tidak tahu, tetapi saya merasa paling tahu.”

Di sinilah kebodohan berubah menjadi penyakit.

Orang yang tidak tahu tetapi mau belajar sedang bergerak menuju kehidupan.

Orang yang tahu tetapi tidak mau mengamalkan sedang bergerak menuju kematian makna.

Sedangkan orang yang tidak tahu dan menutup pintu terhadap kebenaran sedang membangun “kuburan” di dalam pikirannya sendiri.

  1. “Tubuhnya menjadi kuburan” adalah metafora yang luar biasa

Perhatikan:

فأجسامهم قبل القبور قبور

Tubuhnya, sebelum kubur, sudah menjadi kubur.

Mengapa kubur?

Karena kuburan adalah tempat sesuatu yang sudah berhenti tumbuh. Tanah kuburan tidak mengenal perkembangan manusia. Maka seseorang yang berhenti belajar sebenarnya telah menghentikan pertumbuhan dirinya.

Umurnya bertambah, tetapi pemahamannya tidak. Pengalamannya bertambah, tetapi kebijaksanaannya tidak.

Bicaranya semakin banyak, tetapi kedalaman pikirannya tidak bertambah.

Secara kronologis ia menua.
Secara intelektual ia tidak bergerak.

Ini kritik yang sangat tajam.

Sebab manusia sering mengira bahwa bertambahnya usia otomatis berarti bertambahnya kedewasaan.

Padahal belum tentu.

Ada orang berusia 40 tahun, 60 tahun tetapi masih dikuasai ego masa kanak-kanak, tantrum, suka mengejek ibaratnya anak usia 4 tahun mengejek.

Ada orang yang telah hidup puluhan tahun bahkan usianya sudah 70 tahun tetapi tidak pernah benar-benar belajar dari kehidupannya.

Nabi bersabda: وَفِي التِّرْمِذِي عَنْهُ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ سُئِلَ: أَيُّ النَّاسِ خَيْرٌ؟ قَالَ: مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ. قِيْلَ: فَأَيُّ النَّاسِ شَرٌّ؟ قَالَ: مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَ سَاءَ عَمَلُهُ
Artinya, “Dalam riwayat Imam at-Tirmidzi, dari Rasulullah saw bahwa ia pernah ditanya: siapakah paling baiknya manusia? Nabi menjawab: orang yang dikaruniai umur panjang dan baik (benar) perbuatannya. Ditanyakan lagi: Dan siapakah paling jeleknya manusia? Nabi menjawab: orang yang panjang umurnya dan jelek perbuatannya.”

Jadi, umur bukan ukuran kehidupan yang sebenarnya.

  1. Ilmu adalah proses “menghidupkan”

Kemudian datang gagasan yang berlawanan:

وإن امرأ لم يحي بالعلم ميت

“Seseorang yang tidak dihidupkan dengan ilmu adalah mati.”

Perhatikan kata يحيyuḥyā, “dihidupkan”. Artinya ilmu tidak sekadar menambah isi kepala.

Ilmu seharusnya menghidupkan manusia. Ilmu menghidupkan pertanyaan. Ilmu menghidupkan kesadaran. Ilmu menghidupkan akal. Ilmu menghidupkan hati. Ilmu membuat seseorang melihat sesuatu yang sebelumnya tidak terlihat.

Misalnya, orang biasa melihat hujan sebagai air yang jatuh dari langit.

Orang yang belajar fikih mungkin melihat persoalan thaharah dan ibadah.

Orang yang belajar astronomi melihat sistem alam.

Orang yang belajar tasawuf melihat tanda-tanda kebesaran Allah.

Objeknya sama. Tetapi kedalaman pandangannya berbeda. Itulah salah satu fungsi ilmu: Ilmu mengubah cara manusia melihat realitas.

Bayangkan suatu sore hujan turun di halaman pesantren.

Semua santri melihat hujan yang sama.

Air jatuh dari langit.
Tanah menjadi basah.
Atap mengeluarkan suara gemericik.
Halaman menjadi becek.

Tetapi apakah semua santri melihat hal yang sama?

Secara mata, iya.

Tetapi secara ilmu, belum tentu.

  1. Orang biasa melihat hujan sebagai air

Seseorang yang belum banyak belajar mungkin berkata:

“Hujan turun. Jalan menjadi basah.”

Selesai.

Ia melihat peristiwa.

Tidak ada yang salah dengan pandangan itu. Memang hujan adalah air yang turun dari atmosfer.

Tetapi pandangannya berhenti pada apa yang terlihat oleh mata.

  1. Santri yang belajar fikih melihat hujan sebagai persoalan thaharah

Santri yang belajar fikih akan mulai bertanya:

“Air hujan ini suci atau tidak?”

Ia belajar bahwa air hujan termasuk air yang dapat digunakan untuk bersuci. Ia mulai menghubungkan hujan dengan wudu, mandi, bersuci, dan ibadah.

Ketika hujan turun, ia tidak hanya melihat air. Ia melihat hukum Allah yang berkaitan dengan air tersebut. Hujan yang sama. Tetapi ilmu fikih memberinya sudut pandang baru.

  1. Santri yang belajar astronomi melihat sistem alam

Santri yang belajar ilmu falak atau astronomi akan melihat lebih jauh.

Ia mungkin bertanya:

Dari mana air itu berasal? Bagaimana siklus air terjadi? Bagaimana penguapan berlangsung? Bagaimana awan terbentuk? Bagaimana atmosfer bekerja? Mengapa hujan turun di tempat tertentu dan tidak di tempat lain?

Hujan tidak lagi sekadar “air yang jatuh”. Ia menjadi bagian dari sistem alam yang sangat kompleks. Ia mulai melihat keteraturan. Dan dari keteraturan itu, ilmu membawanya kepada pertanyaan yang lebih besar:

Siapa yang membuat alam berjalan dengan keteraturan seperti ini?

 

  1. Santri yang belajar tafsir melihat ayat-ayat tentang hujan

Ia kemudian membuka Al-Qur’an. Ia menemukan bahwa hujan berkali-kali disebut sebagai tanda kekuasaan Allah. Ia membaca bagaimana Allah menurunkan air dari langit, menghidupkan bumi setelah kematiannya, dan menjadikan air sebagai bagian penting dari kehidupan.

Sekarang hujan bukan hanya fenomena alam. Ia menjadi ayat kauniyah—tanda kebesaran Allah yang terbentang di alam. Maka ketika hujan turun, ia tidak hanya berkata:

“Hujan turun.” Tetapi hatinya mulai berkata:

“Allah sedang memperlihatkan kepada manusia bagaimana kehidupan lahir dari sesuatu yang turun dari langit.”

  1. Santri yang belajar tasawuf melihat hujan sebagai pelajaran tentang kehidupan

Di sinilah pandangan menjadi lebih dalam.

Orang yang belajar tasawuf mungkin memandang hujan dan bertanya:

Mengapa air turun dari tempat yang tinggi menuju tempat yang rendah?

Kemudian ia melihat dirinya sendiri. Bukankah manusia sering ingin berada di tempat tinggi? Ingin dihormati.

Ingin dipuji. Ingin dianggap paling pintar. Ingin dianggap paling alim.

Sedangkan air justru memberikan pelajaran:

ia turun. Ia merendah. Tetapi justru karena ia turun, ia menghidupkan bumi.

Maka santri dapat mengambil pelajaran:

Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin rendah hatinya.

Air yang turun menjadi kehidupan bagi tanah.

Demikian pula ilmu yang “turun” menjadi kerendahan hati seharusnya menjadi kehidupan bagi manusia.

  1. Petani melihat hujan sebagai rezeki

Petani melihat hujan dengan cara berbeda.

Ketika hujan turun setelah tanah lama kering, mungkin ia berkata:

“Alhamdulillah.”

Mengapa?

Karena hujan baginya berarti:

  • tanaman tumbuh,
  • sawah mendapat air,
  • ternak mendapatkan sumber kehidupan,
  • hasil panen memiliki harapan.

Hujan menjadi rezeki.

  1. Anak kecil melihat hujan sebagai permainan

Seorang anak kecil mungkin justru berlari keluar.

Mencari genangan. Melepas sandal. Menendang air. Tertawa. Hujan baginya adalah kegembiraan. Objeknya sama.

Tetapi pengalaman dan pengetahuan membuat manusia memberikan makna yang berbeda terhadap objek tersebut.

Lalu, apa yang sebenarnya berubah?

Hujannya tidak berubah. Airnya tidak berubah. Langitnya tidak berubah.

Yang berubah adalah mata yang memandangnya.

Inilah hakikat belajar. Ilmu tidak selalu mengubah dunia yang kita lihat.
Ilmu pertama-tama mengubah cara kita melihat dunia.

Sebelum belajar, kita melihat sesuatu hanya pada permukaannya.

Setelah belajar, kita mulai melihat:

sebab → proses → hukum → makna → hikmah.

Itulah sebabnya orang berilmu memiliki cara pandang yang lebih dalam.

Ilustrasi Kedua: Kitab yang Sama

Berikan contoh lain kepada santri.

Letakkan satu kitab kuning di depan mereka.

Tanyakan:

“Apa yang kalian lihat?”

Santri mungkin menjawab:

“Kitab.”

Lalu tanyakan lagi:

“Apakah semuanya melihat hal yang sama?”

Santri yang baru belajar membaca mungkin hanya melihat huruf Arab tanpa harakat.

Santri yang belajar nahwu mulai melihat kedudukan kata.

Santri yang belajar sharaf melihat perubahan bentuk kata.

Santri yang belajar balaghah melihat keindahan susunan bahasa.

Santri yang belajar fikih melihat hukum yang terkandung di dalamnya.

Santri yang belajar ushul fikih melihat cara hukum itu dibangun.

Santri yang belajar tasawuf mungkin mencari pesan pembentukan jiwa.

Guru yang berpengalaman bahkan mungkin melihat sesuatu yang lebih jauh:

Bagaimana ilmu dalam kitab itu dapat diterjemahkan menjadi kehidupan santri.

Kitabnya sama. Tulisan yang dilihat sama. Tetapi kedalaman pandangannya berbeda.

Ilustrasi Ketiga: Tembok Pesantren

Ini bisa sangat dekat dengan kehidupan santri.

Tunjukkan kepada mereka tembok asrama.

Tanyakan:

“Apa yang kalian lihat?”

Jawabannya mungkin:

“Tembok.”

Tetapi seorang tukang bangunan melihat:

batu, semen, struktur, kekuatan, biaya.

Seorang arsitek melihat:

desain dan konstruksi.

Seorang ahli sejarah mungkin melihat:

umur dan perjalanan bangunan.

Tetapi seorang santri yang telah lama tinggal di pesantren mungkin melihat sesuatu yang lain:

tembok yang menyimpan cerita.

Ia pernah bersandar di sana ketika rindu rumah.

Pernah duduk di sana setelah dimarahi guru.

Pernah menghafal di sana.

Pernah menangis di sana.

Pernah bercanda bersama sahabat.

Pernah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak menyerah.

Maka tembok itu tidak lagi sekadar tembok.

Ia menjadi saksi perjalanan manusia.

Dan inilah yang dilakukan ilmu dan pengalaman:

Benda yang sama dapat berubah makna ketika kedalaman manusia yang melihatnya berubah.

Ilustrasi Keempat: Seorang Guru

Berikan contoh yang lebih tajam.

Seorang santri melihat gurunya sedang menegur seorang temannya.

Santri pertama berkata:

“Ustaz itu marah.”

Santri kedua berkata:

“Ustaz itu keras.”

Tetapi santri yang telah belajar tentang pendidikan dan memahami karakter gurunya mungkin berkata:

“Ustaz sedang mendidik.”

Peristiwa yang sama.

Tetapi maknanya berbeda.

Bahkan bertahun-tahun kemudian, ketika santri itu menjadi guru, barulah ia memahami:

“Dulu saya mengira guru saya sedang memarahi saya. Ternyata ia sedang menyelamatkan saya dari kesalahan.”

Ada pengetahuan yang baru dapat dipahami setelah manusia memiliki pengalaman.

Ilmu Membuat Mata Menjadi Lebih Dalam

Maka kepada santri bisa disampaikan:

Jangan belajar hanya agar kalian bisa menjawab pertanyaan guru. Belajarlah agar kalian mampu melihat sesuatu yang sebelumnya tidak mampu kalian lihat.

Belajar fikih agar mampu melihat hukum di balik peristiwa.

Belajar tafsir agar mampu melihat pesan Allah di balik ayat.

Belajar nahwu agar mampu melihat struktur bahasa.

Belajar sejarah agar mampu melihat perjalanan manusia.

Belajar tasawuf agar mampu melihat penyakit yang tersembunyi di dalam diri.

Belajar filsafat agar mampu menguji cara berpikir.

Belajar ilmu alam agar mampu melihat keteraturan ciptaan.

Dan belajar adab agar semua ilmu itu tidak membuat kita merasa lebih tinggi daripada orang lain.

 

  1. Ilmu bukan sekadar membuat kita tahu, tetapi membuat kita “melihat”

Ini dapat menjadi bahan refleksi yang sangat bagus dalam pengajian.

Sebelum belajar, manusia hanya melihat benda.

Setelah belajar, manusia mulai melihat makna. Seorang santri melihat kitab kuning. Orang awam mungkin melihat hanya kumpulan tulisan Arab tanpa harakat.

Tetapi santri yang belajar nahwu, sharaf, balaghah, fikih, dan ushul fikih mulai melihat lapisan-lapisan makna di dalamnya.

Begitu pula alam.

Orang yang tidak belajar mungkin melihat pohon sebagai pohon.

Tetapi orang yang memiliki kesadaran keilmuan melihat:

pohon sebagai kehidupan, ekosistem, tanda kebesaran Allah, dan amanah manusia.

Jadi ilmu bukan hanya memperbanyak apa yang kita ketahui.

Ilmu memperluas apa yang mampu kita lihat.

  1. Ada perbedaan antara informasi dan ilmu

Ini juga penting untuk zaman sekarang.

Seseorang bisa membaca ribuan informasi setiap hari melalui internet.

Tetapi belum tentu ia berilmu.

Mengapa?

Karena informasi adalah sesuatu yang kita terima, sedangkan ilmu adalah sesuatu yang kita pahami dan mampu kita pertanggungjawabkan.

Hari ini seseorang bisa mendapatkan seratus informasi dalam satu jam.

Tetapi jika semuanya hanya lewat tanpa proses berpikir, maka informasi tersebut tidak otomatis menjadi ilmu.

Lebih jauh lagi, ilmu harus melahirkan:

pemahaman → kesadaran → sikap → amal.

Kalau berhenti pada informasi, ia belum menjadi kehidupan.

  1. Ilmu tanpa akhlak juga bisa kehilangan ruh

Ada bahaya lain.

Jangan sampai kita membaca syair ini lalu merasa:

“Saya berilmu, berarti saya hidup. Orang lain bodoh, berarti mereka mati.”

Justru sikap seperti itu dapat menjadi tanda bahwa ilmu belum menghidupkan hati.

Sebab salah satu buah ilmu adalah tawaduk.

Semakin seseorang mengetahui luasnya ilmu, semakin ia menyadari betapa luas pula wilayah ketidaktahuannya.

Maka orang alim bukan orang yang selalu berkata:

“Saya tahu.”

Tetapi mampu mengatakan:

“Saya belum tahu.”

Dan ia tidak malu untuk belajar.

Dalam tradisi keilmuan Islam, kemampuan mengatakan “la adri”“saya tidak tahu” — justru merupakan tanda kehati-hatian ilmiah.

  1. “Orang berilmu tetap hidup” bukan berarti mencari popularitas

Bait:

أخو العلم حي خالد بعد موته

sering kali bisa disalahpahami seolah-olah tujuan belajar adalah agar nama kita dikenang.

Bukan itu.

Tujuannya bukan:

“Saya ingin terkenal setelah mati.”

Tetapi:

“Saya ingin ilmu yang saya miliki memberi manfaat meskipun saya sudah tidak ada.”

Ini perbedaan besar.

Popularitas berpusat pada nama.

Ilmu bermanfaat berpusat pada manfaat.

Kalau seseorang mengejar nama, ia ingin orang berkata:

“Dia hebat.”

Tetapi orang yang mengejar kebermanfaatan berharap:

“Semoga setelah saya pergi, kebaikan ini tetap berjalan.”

  1. Inilah filosofi “warisan”

Harta diwariskan kepada ahli waris.

Jabatan diwariskan melalui pergantian.

Rumah diwariskan kepada keluarga.

Tetapi ilmu memiliki keistimewaan:

orang yang menerima ilmu tidak membuat pemilik sebelumnya menjadi kehilangan ilmu.

Saya mengajarkan satu ilmu kepada Anda.

Anda mendapatkan ilmu itu.

Saya tetap memilikinya.

Bahkan ketika Anda mengajarkannya kepada orang lain, ilmu itu semakin luas.

Maka ilmu memiliki sifat yang unik:

Ia bertambah ketika dibagikan.

Inilah mengapa ilmu menjadi salah satu warisan paling kuat dalam peradaban Islam.

  1. Guru sebenarnya sedang memperpanjang hidupnya melalui murid

Bayangkan seorang guru mengajar selama 40 tahun.

Ia memiliki 1.000 murid.

Kemudian guru itu wafat.

Apakah seluruh pekerjaannya berhenti?

Tidak.

Jika dari 1.000 murid itu ada 100 orang yang menjadi guru, kemudian masing-masing mengajar 100 orang lagi, maka pengaruh satu orang dapat bergerak kepada ribuan manusia.

Inilah rantai transmisi ilmu.

Maka murid bukan hanya penerima ilmu.

Murid adalah perpanjangan umur gurunya.

Dan guru yang baik sebenarnya tidak hanya sedang mengajar satu generasi.

Ia sedang membangun generasi yang akan mengajar generasi berikutnya.

  1. Pesan yang sangat relevan untuk pesantren

Kalau syair ini dibawa ke kehidupan santri, maka ada pertanyaan besar:

Untuk apa saya belajar di pesantren?

Jawabannya jangan berhenti pada:

  • agar pintar,
  • agar mendapatkan ijazah,
  • agar memperoleh pekerjaan,
  • agar mendapatkan gelar.

Semua itu boleh menjadi bagian dari tujuan.

Tetapi ada tujuan yang lebih tinggi:

Agar ilmu yang saya terima dapat saya teruskan dan menjadi manfaat bagi orang lain.

Karena itu, seorang santri sebenarnya sedang berada dalam sebuah estafet peradaban.

Guru sebelumnya telah menerima ilmu dari gurunya.

Gurunya menerima dari guru sebelumnya.

Begitu seterusnya.

Ketika ilmu sampai kepada kita, kita sebenarnya sedang memegang sesuatu yang telah melewati perjalanan panjang.

Pertanyaannya:

Apakah kita akan meneruskannya atau memutusnya?

  1. Ada “kematian kedua”: ketika ilmu berhenti pada diri sendiri

Ini menurut saya salah satu pembacaan paling menarik dari syair tersebut.

Ada kemungkinan seseorang berilmu tetapi ilmunya mati di dalam dirinya.

Ia tahu banyak hal.

Tetapi tidak mengajarkan.

Tidak mengamalkan.

Tidak membagikan.

Tidak menjadikannya manfaat.

Maka ilmu itu seperti lampu yang disimpan di dalam kotak.

Lampunya ada.

Tetapi tidak menerangi siapa pun.

Karena itu, ilmu memiliki dua tahap kehidupan:

hidup dalam diri → hidup melalui orang lain.

Ilmu yang hanya hidup dalam diri kita masih terbatas.

Ilmu yang berhasil menghidupkan orang lain telah menemukan kehidupan yang lebih panjang.

  1. Ukuran seorang alim bukan hanya banyaknya kitab

Seorang santri bisa menyelesaikan banyak kitab.

Tetapi pertanyaan yang lebih penting:

Apa yang berubah setelah kitab itu selesai dibaca?

Apakah semakin santun?

Apakah semakin jujur?

Apakah semakin sabar?

Apakah semakin mampu menghormati orang lain?

Apakah semakin takut berbuat zalim?

Apakah semakin dekat kepada Allah?

Jika iya, maka ilmu telah menjadi kehidupan.

Tetapi jika semakin banyak kitab justru membuat seseorang semakin angkuh, suka merendahkan, dan merasa paling benar, maka ada sesuatu yang perlu diperiksa.

Mungkin kitabnya sudah dibaca, tetapi maknanya belum masuk ke dalam kehidupan.

  1. Puncak dari ilmu adalah menjadi manusia

Ini mungkin menjadi inti filosofis yang paling dalam.

Tujuan ilmu bukan menciptakan manusia yang sekadar pandai menjawab pertanyaan.

Ilmu seharusnya menciptakan manusia yang lebih layak menjalani kehidupan.

Orang yang berilmu semestinya semakin memahami:

  • bagaimana berbicara,
  • bagaimana memperlakukan orang lain,
  • bagaimana mengendalikan hawa nafsu,
  • bagaimana menggunakan kekuasaan,
  • bagaimana menggunakan harta,
  • bagaimana menghadapi perbedaan,
  • dan bagaimana kembali kepada Allah.

Jadi:

Ilmu bukan hanya tentang mengetahui dunia, tetapi tentang mengetahui bagaimana seharusnya kita hidup di dalamnya.

  1. Maka, siapa sebenarnya yang hidup?

Syair ini akhirnya membalik cara kita memandang kehidupan.

Kita sering mengatakan:

“Dia masih hidup.”

Karena tubuhnya masih bernapas.

Tetapi syair ini bertanya lebih jauh:

“Apakah hidupnya memiliki makna?”

Kita sering mengatakan:

“Dia sudah meninggal.”

Tetapi syair ini bertanya:

“Apakah seluruh pengaruh dan kebaikannya juga sudah mati?”

Belum tentu.

Seorang guru bisa wafat.

Tetapi muridnya masih mengajar.

Seorang ulama bisa wafat.

Tetapi kitabnya masih dibaca.

Seorang ayah bisa wafat.

Tetapi nasihatnya masih membentuk karakter anak-anaknya.

Seorang santri bisa wafat.

Tetapi amal baik yang ia tanam mungkin tetap tumbuh dalam kehidupan orang lain.

Maka kematian jasad bukan selalu akhir dari kehidupan makna.

Renungan Penutup

Syair Syaikh Burhanuddin pada akhirnya bukan hanya menyuruh kita mencari ilmu, tetapi mengajak kita menghidupkan diri dengan ilmu.

Jangan sampai tubuh kita hidup, tetapi akal kita berhenti.

Jangan sampai kita memiliki banyak informasi, tetapi sedikit kebijaksanaan.

Jangan sampai kita memiliki banyak kitab, tetapi sedikit perubahan.

Jangan sampai kita belajar bertahun-tahun, tetapi ilmu itu tidak pernah menjadi cahaya bagi orang lain.

Sebab manusia pada akhirnya akan sampai kepada satu pintu yang sama:

kematian.

Yang membedakan bukan siapa yang mati dan siapa yang tidak.

Semua akan mati.

Yang membedakan adalah:

ketika kita mati, apakah sesuatu dari diri kita ikut mati bersama jasad, ataukah ada ilmu, akhlak, dan kebaikan yang masih terus hidup?

Maka seorang santri seharusnya tidak hanya bercita-cita menjadi orang berilmu.

Lebih tinggi dari itu:

Jadilah orang yang menghidupkan.

Hidupkan akal dengan ilmu.
Hidupkan hati dengan iman.
Hidupkan ilmu dengan amal.
Hidupkan amal dengan keikhlasan.
Dan hidupkan generasi setelah kita dengan apa yang telah kita pelajari.

Sebab mungkin umur kita hanya beberapa puluh tahun, tetapi jika ilmu kita menjadi manfaat, kehidupan kita dapat berjalan jauh melewati batas usia jasad.