Ketua Kelompok Kerja Pengawas (Pokjawas) Madrasah Provinsi Sulawesi Selatan, H. Ridwan, S.Pd., M.Pd

Media Asgar Center – Pondok Pesantren As’adiyah Galung Beru terus memperkuat komitmennya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, ramah, dan membahagiakan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui Deklarasi Zero Bullying yang menjadi bagian dari rangkaian Masa Ta’aruf Murid Madrasah (MATAMUDA) Tahun Pelajaran 2026/2027, Sabtu (18/7/2026).

Deklarasi tersebut dipadukan dengan pengenalan Kurikulum Berbasis Cinta (Pancacinta) yang menghadirkan Ketua Kelompok Kerja Pengawas (Pokjawas) Madrasah Provinsi Sulawesi Selatan, H. Ridwan, S.Pd., M.Pd., sebagai narasumber.

Menurut H. Ridwan, Kurikulum Berbasis Cinta atau Pancacinta bukan sekadar konsep pembelajaran, melainkan sebuah gerakan untuk membangun karakter peserta didik agar tumbuh dalam lingkungan yang aman, nyaman, ramah, membahagiakan, dan bermartabat.

“Di madrasah tidak ada lagi bullying. Kita berusaha agar madrasah menjadi tempat yang aman, menyenangkan, ramah, membahagiakan, dan bermartabat,” tegasnya.

Ia menjelaskan, komitmen tersebut merupakan langkah nyata dalam membangun ekosistem pendidikan yang mampu melindungi setiap peserta didik dari segala bentuk kekerasan, intimidasi, maupun perundungan.

Sebagai bagian dari penguatan pendidikan karakter, H. Ridwan juga mengajak para santri untuk menumbuhkan kepedulian terhadap sesama. Melalui pendekatan edukatif dan interaktif, peserta didik didorong membangun budaya saling menghormati, menghargai perbedaan, berani menolak perundungan, serta tidak bersikap acuh ketika melihat teman menjadi korban.

Di akhir kegiatan, seluruh santri mengikuti Deklarasi dan Ikrar Anti-Bullying sebagai bentuk komitmen bersama mewujudkan lingkungan madrasah yang aman dan bebas dari perundungan. Pembacaan ikrar dipimpin oleh Muh. Khalil Akbar, kemudian diikuti secara serempak oleh seluruh peserta dengan penuh semangat.

Melalui deklarasi tersebut, diharapkan seluruh peserta didik, baik santri baru maupun santri lama, menjadi pelopor budaya saling menghargai, menjaga persaudaraan, serta menolak segala bentuk kekerasan di lingkungan madrasah.

Gerakan ini menjadi implementasi nyata Kurikulum Berbasis Cinta yang menempatkan kasih sayang, penghormatan terhadap martabat manusia, dan kepedulian sebagai fondasi utama pendidikan. Dengan semangat Pancacinta, madrasah diharapkan terus melahirkan generasi yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga berakhlak mulia, berempati, dan mampu menjadi teladan di tengah masyarakat.