Pembina Tahfizh evaluasi buku setoran hafalan santriPengajian Magrib Ta’lim Muta’allim
Selasa, 11/8/2026
Ada pernyataan seringkali kita dengar bahwa manusia memiliki umur yang terbatas. Kita lahir, tumbuh, belajar, bekerja, kemudian pada waktunya kembali kepada Allah Swt. Tidak ada seorang pun yang dapat menghindari kematian. Namun, ada sesuatu yang dapat melampaui batas usia manusia, yaitu ilmu yang bermanfaat.
Dalam kitab yang menjadi sumber pembahasan ini disebutkan:
والعلم النافع يحصل به حسن الذكر ويبقى ذلك بعد وفاته، فإنه حياة أبدية
Artinya, kurang lebih:
“Ilmu yang bermanfaat akan menghasilkan sebutan yang baik, dan sebutan itu tetap ada setelah seseorang meninggal dunia. Sesungguhnya ilmu itu merupakan kehidupan yang abadi.”
Kalimat ini mengajarkan kepada kita bahwa ada manusia yang secara jasad telah meninggal, tetapi secara makna masih hidup. Ia tidak lagi berjalan di tengah manusia, tetapi ilmunya masih berjalan. Ia tidak lagi berbicara, tetapi perkataannya masih dibaca. Ia tidak lagi duduk di majelis pengajian, tetapi pemikirannya masih diajarkan oleh murid-muridnya. Itulah salah satu bentuk kehidupan yang melampaui kematian.
Dalam syair yang dikutip pada halaman tersebut disebutkan:
الجاهلون فموتى قبل موتهم
والعالمون وإن ماتوا فأحياء
Yang berarti:
“Orang-orang bodoh itu telah mati sebelum kematian mereka; sedangkan orang-orang berilmu, meskipun telah meninggal, mereka tetap hidup.”
Syair ini tentu tidak semata-mata berbicara tentang orang yang tidak memiliki pengetahuan. Sebab, setiap manusia pada awalnya memang tidak mengetahui banyak hal. Kebodohan yang dimaksud lebih dalam: ketika seseorang tidak lagi memiliki kehendak untuk belajar, tidak mau mencari kebenaran, dan merasa cukup dengan ketidaktahuannya.
Tubuhnya hidup, tetapi pikirannya berhenti. Sebaliknya, orang yang mencintai ilmu akan terus hidup melalui ilmu yang ditinggalkannya.
Seorang ulama mungkin telah wafat puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu. Namun ketika kitabnya dibuka dan dipelajari, seolah-olah ia kembali berbicara kepada kita. Ketika pemikirannya diajarkan oleh seorang guru kepada muridnya, suara ilmunya kembali terdengar.
Jasadnya telah berada di dalam tanah, tetapi ilmunya masih berada di tengah kehidupan.
Di sinilah kita memahami ungkapan:
العالمون وإن ماتوا فأحياء
Orang-orang berilmu, meskipun telah mati, mereka tetap hidup.
Namun ada hal yang perlu kita garis bawahi: teks tersebut tidak sekadar menyebut العلم atau ilmu, melainkan العلم النافع, ilmu yang bermanfaat.
Ini penting. Sebab seseorang bisa memiliki banyak pengetahuan, banyak gelar, banyak buku, bahkan pandai berbicara, tetapi belum tentu ilmunya memberikan kehidupan kepada orang lain.
Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang turun dari kepala menuju hati, kemudian bergerak menjadi amal. Ilmu membuat seseorang semakin rendah hati, bukan semakin sombong. Ilmu membuat seseorang semakin dekat kepada Allah, bukan semakin merasa tinggi di hadapan manusia. Ilmu yang membuat seseorang bisa menjadi motivator, bukan provokator.
Karena itu, ukuran keberhasilan belajar bukan hanya berapa banyak hadits yang kita hafal, berapa banyak buah kitab yang kita kuasai, tetapi berapa banyak kebaikan yang lahir dari apa yang kita pelajari.
Seorang santri mungkin hanya menguasai satu kitab dengan baik. Tetapi apabila ilmu dari kitab itu ia ajarkan kepada sepuluh orang, kemudian sepuluh orang itu mengajarkannya kepada orang lain, maka ilmu tersebut telah menemukan jalan yang panjang. Ilmunya hidup.
Guru yang Tidak Pernah Benar-Benar Mati
Mari kita renungkan kehidupan seorang guru.
Seorang ustaz atau kiai mengajar santrinya bertahun-tahun. Ia mungkin tidak memiliki harta yang banyak. Tidak memiliki Tabungan puluhan bahkan ratusan juta. Tidak memiliki rumah yang megah, tidak memiliki banyak kendaraan. Kemudian ia meninggal. Secara jasad, ia telah pergi. Namun beberapa tahun kemudian, salah seorang muridnya berdiri di depan kelas dan mengajarkan pelajaran yang dahulu pernah diberikan gurunya.
Murid itu kemudian menjadi guru. Muridnya menjadi guru lagi. Maka di dalam setiap pelajaran yang disampaikan itu, terdapat jejak guru yang pertama.
Begitulah ilmu. Ia berpindah dari hati ke hati, dari lisan ke lisan, dari generasi ke generasi.
Karena itu, seorang guru tidak pernah benar-benar selesai ketika ia meninggal. Selama ilmunya masih diamalkan dan diajarkan, sebagian dari kehidupannya masih berjalan.
Pesan untuk Para Santri
Bagi seorang santri, pesan ini seharusnya menjadi motivasi yang sangat besar.
Jangan merasa sia-sia ketika hari ini kita harus duduk berlama-lama mempelajari kitab. Jangan merasa sia-sia ketika harus mengulang pelajaran yang belum dipahami. Jangan merasa berkecil hati kalau menyetor kemudian tidak pindah bacaannya.
Mungkin hari ini kita belum melihat hasilnya.
Tetapi ilmu tidak selalu bekerja seperti uang yang langsung terlihat hasilnya.
Ilmu bekerja seperti benih. Ia ditanam hari ini, dirawat bertahun-tahun, kemudian suatu saat tumbuh menjadi pohon yang memberikan teduh kepada orang lain.
Karena itu, seorang santri jangan hanya bercita-cita:
“Saya ingin menjadi orang pintar.”
Tetapi hendaknya bercita-cita lebih tinggi:
“Saya ingin menjadi manusia yang ilmunya bermanfaat.”
Sebab kepintaran bisa membuat seseorang dikagumi.
Tetapi ilmu yang bermanfaat membuat seseorang dikenang sepanjang masa.
Apa yang Akan Tersisa Setelah Kita Mati?
Pada akhirnya, pertanyaan ini akan kembali kepada kita masing-masing.
Suatu hari nanti, kita semua akan meninggalkan rumah. Meninggalkan pekerjaan. Meninggalkan jabatan. Meninggalkan harta. Meninggalkan orang-orang yang kita cintai.
Bahkan nama kita perlahan-lahan bisa dilupakan. Tetapi ada sesuatu yang dapat kita perjuangkan agar tetap hidup:
ilmu yang kita ajarkan, akhlak yang kita teladankan, dan kebaikan yang kita tinggalkan.
Maka jangan hanya bertanya:
“Berapa lama saya akan hidup?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
“Setelah saya mati, apa yang masih hidup dari diri saya?”
Jika tidak ada apa-apa, maka mungkin hidup kita hanya berhenti pada usia jasad.
Tetapi jika ada ilmu yang terus dipelajari, ada murid yang terus mengajar, ada anak yang meneruskan kebaikan, dan ada manusia yang menjadi lebih baik karena pernah bertemu dengan kita, maka kehidupan kita memiliki usia yang lebih panjang daripada umur biologis.
Penutup
Ilmu yang bermanfaat adalah warisan yang tidak habis ketika dibagikan. Semakin diberikan, semakin luas ia hidup. Semakin diajarkan, semakin panjang umurnya. Dan ketika pemiliknya telah kembali kepada Allah, ilmunya masih dapat menjadi cahaya bagi orang lain.
Maka marilah kita belajar bukan hanya untuk mengetahui, tetapi untuk mengamalkan. Bukan hanya untuk menjadi pintar, tetapi untuk menjadi bermanfaat.




