Satu Angkatan Keilmuan Menteri Agama RI, Gurutta Husain Tuturkan Kenangan Belajar di As'adiyah SengkangMedia Asgar Center – Wajahnya telah dipenuhi garis-garis usia. Rambut yang memutih menjadi saksi perjalanan panjang seorang pencari ilmu. Namun setiap kali mengenang masa mudanya, sorot mata Gurutta Husain kembali berbinar. Di usia 75 tahun, sesepuh As’adiyah yang kini menjadi salah satu ulama tertua di Bulukumba itu masih menyimpan ingatan yang begitu kuat tentang jalan panjang yang mengantarkannya menjadi bagian dari mata rantai sanad keilmuan As’adiyah.
Dalam sebuah wawancara bersama Asgar Center, Gurutta Husain tidak banyak berbicara tentang dirinya. Yang lebih sering beliau kenang justru guru-gurunya. Begitulah adab seorang santri; ketika ditanya tentang perjalanan hidupnya, yang pertama disebut adalah orang-orang yang telah mengajarinya.
Lahir di Kampung Ereng-Ereng, Kabupaten Bantaeng, kehidupan Gurutta Husain bermula dari lingkungan sederhana yang sarat tradisi keagamaan. Di sanalah beliau menempuh pendidikan Madrasah Ibtidaiyah As’adiyah. Pada masa itu, memperoleh ijazah yang diterbitkan langsung oleh As’adiyah Pusat Sengkang merupakan kebanggaan sekaligus amanah besar.
Ijazah sederhana itulah yang kemudian mengubah arah hidupnya.
“Bermodal ijazah Ibtidaiyah As’adiyah, saya berangkat ke Sengkang untuk melanjutkan belajar,” kenangnya sambil tersenyum.
Tahun 1970 menjadi titik awal perjalanan panjangnya di Kota Santri Sengkang, Kabupaten Wajo. Di tahun yang hampir bersamaan, seorang santri lain yang kelak dikenal sebagai Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A., telah lebih dahulu menimba ilmu di sana sekitar setahun sebelumnya. Mereka berasal dari generasi yang sama, tumbuh dalam atmosfer pendidikan yang dibangun oleh para ulama besar As’adiyah.
Selama tujuh tahun menimba ilmu hingga menyelesaikan pendidikan Sarjana Muda pada 1977, Gurutta Husain menikmati kehidupan yang seluruh ritmenya diatur oleh ilmu.
Seusai salat Magrib, para santri berkumpul mengelilingi AG. KH. Yunus Martan. Kitab kuning dibuka, makna demi makna dijelaskan hingga menjelang Isya. Belum selesai sampai di situ. Seusai Subuh, pengajian kembali berlangsung. Hari-hari mereka diisi dengan membaca, menghafal, memahami, dan mengulang pelajaran tanpa mengenal lelah.
Selain kepada AG. KH. Yunus Martan, Gurutta Husain juga berguru kepada AG. Drs. Muhammad Sagena serta Abdullah Martan. Ketiganya merupakan ulama yang memberikan warna berbeda dalam pembentukan intelektual sekaligus karakter para santri As’adiyah.
Beliau bersyukur pernah bertemu hampir seluruh generasi Anregurutta As’adiyah, meskipun tidak sempat berguru langsung kepada pendiri As’adiyah, Syekh Al-‘Allamah AG. KH. Muhammad As’ad Al-Bugisy yang telah lebih dahulu wafat.
Masa-masa itu menjadi kenangan yang tak pernah pudar.
Di antara teman seperjuangannya terdapat H. Mustamir yang kemudian dikenal sebagai anggota DPRD Bulukumba, almarhum H. Musakkir, serta banyak santri lain yang kelak mengabdi di berbagai bidang kehidupan. Beliau juga mengenang bahwa Gurutta Aziz Nonci datang melanjutkan pendidikan di Sengkang setelah dirinya kembali ke Bulukumba.
Namun kecintaan Gurutta Husain terhadap ilmu sebenarnya telah tumbuh jauh sebelum menginjakkan kaki di Sengkang.
Di Kampung Ereng-Ereng, beliau telah mempelajari dasar-dasar nahwu dan sharaf kepada almarhum H. Abdul Hayyi. Dari gurunya itulah beliau memahami bahwa bahasa Arab bukan sekadar tata bahasa, melainkan kunci untuk membuka khazanah Al-Qur’an, hadis, dan kitab-kitab para ulama.
Ada kisah lain yang membuat perjalanan hidupnya terasa semakin menarik.
Ketika malam tiba dan pelajaran agama usai, Gurutta Husain muda tidak langsung beristirahat. Ia justru menuju tempat latihan silat. Dasar-dasar bela diri lebih dahulu dipelajarinya di Bantaeng, lalu terus diasah ketika berada di Ereng-Ereng.
Baginya, ilmu bela diri bukan untuk menunjukkan kehebatan.
“Belajar agama membentuk akhlak, sementara silat mengajarkan pengendalian diri. Keduanya harus berjalan seimbang,” tuturnya.
Kalimat sederhana itu menggambarkan filosofi pendidikan pesantren tempo dulu. Santri tidak hanya dibentuk kecerdasannya, tetapi juga ditempa keberanian, kedisiplinan, kesabaran, serta kemampuan mengendalikan hawa nafsu.
Kini, lebih dari setengah abad telah berlalu sejak pertama kali beliau menginjakkan kaki di Sengkang.
Banyak guru telah wafat. Banyak sahabat seperjuangan telah mendahului menghadap Allah SWT. Namun sanad ilmu yang mereka wariskan terus hidup melalui murid-muridnya.
Gurutta Husain menjadi salah satu saksi hidup perjalanan panjang As’adiyah. Dari sebuah kampung kecil di Ereng-Ereng, beliau berjalan membawa ijazah sederhana menuju Sengkang. Dari ruang-ruang pengajian kitab kuning, beliau membawa pulang ilmu untuk kemudian diajarkan kembali kepada generasi berikutnya di Bulukumba.
Perjalanan hidupnya mengajarkan bahwa keberhasilan seorang santri bukan semata-mata lahir dari kecerdasan. Ia bertumbuh dari kesabaran menuntut ilmu, ketekunan menghadiri majelis, penghormatan kepada guru, serta kesetiaan menjaga tradisi keilmuan yang diwariskan para ulama.
Di tengah arus zaman yang terus berubah, sosok Gurutta Husain menjadi pengingat bahwa ilmu yang berkah selalu lahir dari adab, ketekunan, dan sanad yang terjaga. Selama masih ada guru yang mengajar dengan keikhlasan dan santri yang belajar dengan penuh hormat, cahaya perjuangan As’adiyah akan terus menyala dari generasi ke generasi.




