Pembina dan Santri As’adiyah Galung Beru Berjibaku Angkut SampahMedia Asgar Center – Semangat memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tidak hanya diwujudkan Pondok Pesantren As’adiyah Galung Beru melalui keikutsertaan dalam lomba gerak jalan. Seusai kegiatan, pembina dan santri justru menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan dengan membersihkan sampah yang berserakan di sekitar Masjid Nurul Ittihad Ponre, Kecamatan Gantarang, Kabupaten Bulukumba, Minggu (16/8/2026).
Pembina dan santri Pondok Pesantren As’adiyah Galung Beru sebelumnya turut ambil bagian dalam lomba gerak jalan antarsekolah tingkat SD/MI, MTs/SMP, hingga SMA/MA se-Kecamatan Gantarang dalam rangka memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Usai perlombaan, kawasan sekitar Masjid Nurul Ittihad Ponre menjadi tempat beristirahat bagi sejumlah peserta. Sebagian peserta menikmati jajanan yang dijual di sekitar lokasi, sementara lainnya makan siang sebelum kembali ke sekolah masing-masing.
Aktivitas tersebut meninggalkan sejumlah sampah berupa plastik, kemasan makanan, dan sisa jajanan yang berserakan di sekitar lingkungan masjid.
Melihat kondisi tersebut, pembina dan santri Pondok Pesantren As’adiyah Galung Beru memilih untuk tidak tinggal diam. Mereka langsung bergerak membersihkan sampah yang tersisa.
Aksi tersebut dikomandoi Jusman Imam, pembina Pondok Pesantren As’adiyah Galung Beru yang juga Admin Humas Kementerian Agama Kabupaten Bulukumba, bersama Kepala MTs As’adiyah Galung Beru, Yulianti, M.Pd.
Begitu komando diberikan, para santri langsung memungut sampah yang berserakan dan membersihkan kawasan sekitar masjid. Tidak ada pertanyaan tentang siapa yang membuang sampah tersebut. Bagi mereka, kebersihan ruang publik merupakan tanggung jawab bersama.
Jusman Imam mengatakan, kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pendidikan santri.
“Bagi kami, menjaga kebersihan bukan hanya persoalan lingkungan, tetapi juga bagian dari ibadah dan tanggung jawab moral manusia sebagai khalifah di muka bumi. Ketika kita membersihkan sampah yang berserakan, sesungguhnya kita sedang belajar menghormati ciptaan Allah,” ujar Jusman.
Menurutnya, pendidikan pesantren harus mampu menghubungkan nilai-nilai keagamaan dengan persoalan kehidupan sehari-hari, termasuk persoalan lingkungan.
Jusman menyebut pendekatan ekoteologi penting dikenalkan kepada generasi muda agar mereka memahami bahwa alam bukan sekadar ruang yang dimanfaatkan manusia, tetapi amanah yang harus dirawat.
“Bumi ini bukan warisan yang boleh kita habiskan, tetapi amanah yang harus kita jaga dan wariskan dalam keadaan baik kepada generasi berikutnya,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala MTs As’adiyah Galung Beru, Yulianti, M.Pd., mengatakan aksi tersebut menjadi pembelajaran langsung bagi santri di luar ruang kelas.
“Kami ingin anak-anak belajar bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di dalam kelas. Ketika mereka melihat sampah lalu tergerak untuk membersihkannya, di situlah nilai tanggung jawab, kepedulian, gotong royong, dan akhlak sedang dipraktikkan,” ujar Yulianti.
Aksi pembina dan santri As’adiyah Galung Beru menjadi warna tersendiri dalam peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kecamatan Gantarang.




